Notification

×

Iklan

Iklan

Pakar BRIN Minta Maaf usai Viral Polemik Badai Dahsyat Jabodetabek

Desember 31, 2022 WIB Last Updated 2022-12-31T01:45:14Z


Peneliti bidang klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin meminta maaf karena sudah memicu polemik terkait potensi "badai dahsyat" di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) 28 Desember.


"Bahwa telah terjadi misinterpretasi publik mengenai istilah 'badai dahsyat' maka ini menjadi pelajaran berharga untuk saya sebagai periset agar memilih bahasa yang lebih tepat dan tidak menimbulkan makna ganda," ucap dia, di akun Facebook-nya, Jumat (30/12).


"Oleh karena itu saya memohon maaf atas dampak terhadap pubik yang berada di luar kendali saya," lanjut Erma.


Menurutnya, frasa "badai dahsyat" dipilih untuk menggantikan istilah ilmiah dua jenis badai yang sedang intensif terjadi di Laut Jawa (badai Mesoscale Convectibe Complex/MCC) dan Samudera Hindia (badai derecho/squall line).


"Dan keduanya bergerak mendekati kawasan Jabodetabek," sambung dia.


Namun, katanya, badai yang dimaksud "bukan badai dalam pemahaman awam seperti halnya badai tornado karena tidak mungkin terbentuk tornado d wilayah Indonesia."


Terlepas dari itu, Erma menyebut "kedua badai tersebut memang benar terjadi sesuai dengan hasil prediksi SADEWA."

"Yang meleset dari prediksi adalah intensitas hujan yang tidak ekstrem sehingga dampak yang ditimbulkan tidak separah yang diperkirakan," ia mengakui.


Sebelumnya, Erma memprediksi banjir besar di Jabodetabek akibat potensi hujan ekstrem dan badai dahsyat pada 28 Desember. Beritanya dan kicauannya soal badai dahsyat pun viral.


BMKG kemudian memberikan informasi resmi bahwa yang terjadi bukan badai, tapi hujan ekstrem.


BRIN pun kemudian menyatakan pernyataan soal badai dahsyat itu pendapat pribadi peneliti meskipun pihaknya menghargai kebebasan akademis.[sb]

×
Berita Terbaru Update