Kontroversi kembali mengemuka setelah materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono menuai kritik publik. Candaan yang menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai sejumlah pihak telah melampaui batas kritik dan masuk ke ranah personal, sehingga memicu perdebatan luas soal etika kebebasan berekspresi di ruang publik.
Pandji dikenal sebagai komika yang kerap menyampaikan kritik sosial dan politik lewat panggung stand up comedy. Namun kali ini, sebagian pengamat dan figur publik menilai materi yang disampaikan tidak lagi berfokus pada kebijakan atau kinerja pejabat negara, melainkan menyentuh aspek fisik dan personal.
Perdebatan pun menguat di media sosial. Isu ini bukan hanya soal komedi, tetapi menyentuh prinsip dasar demokrasi: sejauh mana kritik boleh disampaikan atas nama kebebasan berekspresi.
Kritik Sah, Penghinaan Dipersoalkan
Dalam sistem demokrasi, kritik terhadap pejabat negara merupakan hal yang sah dan dilindungi. Kritik bahkan dianggap sebagai elemen penting untuk menjaga akuntabilitas kekuasaan. Namun, banyak pihak menegaskan bahwa kritik seharusnya diarahkan pada kebijakan, keputusan publik, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Ketika kritik bergeser menjadi ejekan personal atau fisik, substansi demokrasi dinilai justru melemah. Alih-alih mendorong diskusi publik yang sehat, pendekatan semacam itu dinilai berpotensi menciptakan polarisasi dan merendahkan martabat individu.
Stand Up Comedy dan Etika Publik
Stand up comedy selama ini dikenal sebagai medium kritik sosial yang efektif. Humor dan satire sering digunakan untuk menyampaikan pesan yang tajam dengan cara ringan. Meski demikian, sejumlah kalangan menilai kebebasan berkarya tetap harus disertai tanggung jawab etis.
Kualitas kritik, menurut para pengamat, tidak diukur dari seberapa tajam ejekan yang disampaikan, melainkan dari kedalaman argumen dan relevansinya terhadap kepentingan publik. Ketika humor kehilangan etika, pesan kritik justru berisiko kehilangan makna.
Wapres sebagai Simbol Negara
Sebagai Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka tidak hanya dipandang sebagai individu, tetapi juga sebagai simbol institusi negara. Karena itu, serangan personal terhadap pejabat negara dinilai dapat berdampak lebih luas, termasuk pada wibawa lembaga pemerintahan.
Pandangan ini menegaskan bahwa kritik terhadap pejabat publik perlu menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Ruang Publik dan Tanggung Jawab Demokrasi
Kontroversi ini mencerminkan tantangan yang lebih besar dalam demokrasi Indonesia, yakni menjaga kebebasan berbicara tanpa mengorbankan etika. Demokrasi tidak hanya menuntut keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga tanggung jawab atas dampak dari pernyataan tersebut.
Sejumlah pihak menilai, penegasan batas antara kritik dan penghinaan perlu terus digaungkan agar ruang publik tetap sehat, produktif, dan berorientasi pada substansi.
Dengan demikian, perdebatan soal candaan Pandji bukan semata soal individu, melainkan menjadi refleksi bersama tentang bagaimana demokrasi dan kebebasan berekspresi seharusnya dijalankan di Indonesia.

.webp)
