Deretan film horor Indonesia kembali mendominasi pembicaraan publik berkat pendekatan kisah nyata, nuansa lokal yang kuat, serta perpaduan horor dan komedi yang segar.
Di sisi lain, produksi internasional berskala besar juga hadir dengan visual spektakuler dan cerita distopia, memperluas variasi tontonan di Netflix.
Adaptasi, remake, hingga perluasan semesta populer pun menjadi strategi utama untuk menarik perhatian penonton global.
TRIBUNJOGJA.COM – Perbincangan mengenai film-film terbaru Netflix kembali memanas di berbagai platform media sosial.
Deretan judul dari dalam dan luar negeri ramai memenuhi linimasa, memicu rasa penasaran sekaligus perdebatan di kalangan penikmat film.
Mulai dari horor lokal berbasis kisah nyata, remake film Asia legendaris, hingga produksi raksasa Hollywood dengan anggaran fantastis, semuanya hadir dalam waktu berdekatan dan langsung mencuri perhatian publik.
Fenomena ini menegaskan posisi Netflix sebagai salah satu tolok ukur tren tontonan, terutama ketika film-film barunya dengan cepat menjadi bahan diskusi, ulasan, dan rekomendasi warganet.
1. Sumala (2024)
Film Sumala merupakan horor thriller supranatural karya Rizal Mantovani yang dibintangi Luna Maya dan Darius Sinathrya.
Diangkat dari kisah nyata di Kabupaten Semarang pada tahun 1948, film ini kini sudah tersedia di Netflix.
Cerita berfokus pada pasangan Seodjiman dan Sulastri yang melakukan perjanjian dengan iblis demi mendapatkan keturunan.
Perjanjian tersebut melahirkan anak kembar, Kumala dan Sumala, dengan satu sosok membawa sisi gelap yang mengerikan.
Seiring waktu, Sumala dikaitkan dengan serangkaian peristiwa horor, termasuk hilangnya anak-anak di desa.
Film ini menonjolkan unsur gore, atmosfer mencekam, serta ketegangan psikologis tanpa bergantung pada jumpscare semata.
2. Kang Mak from Pee Mak (2024)
Kang Mak from Pee Mak merupakan film horor komedi Indonesia hasil remake dari film Thailand populer Pee Mak (2013).
Disutradarai Herwin Novianto, film ini dibintangi Vino G. Bastian dan Marsha Timothy dan kini dapat ditonton di Netflix.
Kisah bermula saat Makmur pulang dari medan perang dan kembali berkumpul dengan istrinya, Sari, serta bayi mereka.
Namun, keberadaan Sari menyimpan misteri besar yang mengarah pada isu arwah gentayangan.
Perpaduan komedi, drama emosional, dan budaya lokal membuat film ini terasa ringan sekaligus menyentuh.
3. Rumah Dinas Bapak (2024)
Film Rumah Dinas Bapak diangkat dari kisah nyata masa kecil komika Dodit Mulyanto.
Berlatar rumah dinas angker di tengah hutan jati Blora, Jawa Tengah, film ini menggabungkan horor dan komedi khas Indonesia.
Cerita mengikuti keluarga pegawai kehutanan yang harus menghadapi teror mistis, terutama setiap malam Jumat Kliwon.
Disutradarai Bobby Prasetyo dan diproduksi Starvision, film ini menawarkan horor yang terasa personal dan dekat dengan realitas masyarakat.
4. The Electric State (2025)
The Electric State merupakan film fiksi ilmiah distopia besutan Anthony dan Joe Russo.
Dirilis eksklusif di Netflix sejak 14 Maret 2025, film ini menjadi salah satu produksi termahal Netflix dengan anggaran sekitar 320 juta dolar AS.
Berlatar dunia alternatif 1990-an pasca perang robot, film ini mengikuti perjalanan Michelle (Millie Bobby Brown) mencari adiknya.
Ia ditemani robot Cosmo, Keats (Chris Pratt), dan Herman yang disuarakan Anthony Mackie.
Visual retro-futuristik menjadi daya tarik utama film adaptasi novel grafis karya Simon Stålenhag ini.
5. The Witcher: Sirens of the Deep (2025)
The Witcher: Sirens of the Deep adalah film animasi action-fantasy dewasa dari semesta The Witcher.
Dirilis di Netflix pada 11 Februari 2025, film ini diadaptasi dari cerita pendek A Little Sacrifice.
Kisah mengikuti Geralt of Rivia yang menyelidiki serangan misterius di desa pesisir dan terjebak konflik antara manusia dan makhluk duyung.
Diproduksi Studio Mir, film ini menghadirkan gaya animasi khas anime dengan adegan laga intens.
Doug Cockle kembali mengisi suara Geralt, didampingi Joey Batey sebagai Jaskier.
Deretan film ini menunjukkan bagaimana Netflix terus menghadirkan variasi tontonan, dari horor lokal berbasis kisah nyata hingga produksi global berskala besar.
Kombinasi remake, adaptasi, dan eksplorasi semesta populer terbukti efektif menjaga minat penonton tetap tinggi.
Tak heran jika film-film ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bahan diskusi hangat di media sosial dari berbagai sudut pandang.

