-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Asal Usul Ketupat, Simbol Khas Lebaran yang Penuh Makna

Maret 22, 2026 Last Updated 2026-03-22T10:54:49Z



Perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak pernah lepas dari kehadiran ketupat. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini selalu hadir di meja makan saat Lebaran. Namun, di balik rasanya yang khas, ketupat ternyata menyimpan sejarah dan filosofi yang mendalam.


Berasal dari Tradisi Jawa


Ketupat diyakini berasal dari tradisi masyarakat Jawa yang sudah mengenal olahan beras dalam berbagai bentuk sejak lama. Sebelum menjadi simbol Lebaran, ketupat hanyalah salah satu cara mengolah dan menyajikan beras agar lebih praktis dan tahan lama.


Seiring waktu, ketupat mengalami perkembangan makna ketika budaya lokal mulai berpadu dengan ajaran Islam yang masuk ke Nusantara.


Peran Sunan Kalijaga dalam Memopulerkan Ketupat


Ketupat mulai identik dengan Lebaran berkat peran Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Ia menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah, termasuk melalui simbol-simbol yang mudah dipahami masyarakat.


Ketupat dijadikan sarana untuk mengajarkan nilai-nilai Islam, khususnya tentang pentingnya mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah bulan Ramadan.


Filosofi “Ngaku Lepat”


Dalam bahasa Jawa, ketupat atau “kupat” sering diartikan sebagai singkatan dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini sangat selaras dengan tradisi Lebaran, di mana umat Muslim saling meminta maaf dan membersihkan diri dari kesalahan.


Makna Anyaman dan Warna Putih


Bentuk ketupat yang dianyam dari janur (daun kelapa muda) juga memiliki simbol tersendiri. Anyaman yang rumit melambangkan berbagai kesalahan manusia, sementara isi ketupat yang berwarna putih bersih menggambarkan hati yang kembali suci setelah saling memaafkan.


Janur sendiri sering dimaknai sebagai “jatining nur” atau cahaya sejati, yang mencerminkan harapan agar manusia kembali pada kesucian.


Tradisi yang Terus Dilestarikan


Hingga kini, ketupat tidak hanya menjadi makanan, tetapi juga bagian dari tradisi yang terus diwariskan. Di beberapa daerah, bahkan ada perayaan khusus seperti Lebaran Ketupat yang dilakukan beberapa hari setelah Idul Fitri.


Ketupat biasanya disajikan bersama hidangan khas seperti opor ayam dan sambal goreng, menambah kehangatan suasana berkumpul bersama keluarga.


Kesimpulan


Ketupat bukan sekadar makanan pelengkap Lebaran. Ia merupakan simbol perpaduan budaya dan agama yang sarat makna. Dari tradisi Jawa hingga ajaran Islam yang dibawa oleh Sunan Kalijaga, ketupat menjadi pengingat akan pentingnya saling memaafkan dan kembali ke hati yang bersih.

×