-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kenapa Saat Stres Kita Mengidam Cokelat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Maret 28, 2026 Last Updated 2026-03-28T07:34:48Z



Banyak orang tanpa sadar langsung mencari cokelat saat merasa stres. Ternyata, kebiasaan ini bukan sekadar soal rasa enak, tetapi berkaitan erat dengan respons biologis tubuh.


Ketika seseorang berada dalam tekanan, tubuh mengaktifkan mekanisme fight or flight. Dalam kondisi ini, hormon kortisol meningkat untuk membantu tubuh menghadapi situasi tersebut.


Peningkatan kortisol membuat energi tubuh cepat terkuras. Akibatnya, tubuh memberi sinyal untuk segera mendapatkan asupan energi instan, salah satunya dari makanan manis seperti cokelat. Inilah alasan mengapa keinginan terhadap cokelat sering muncul saat stres.


Namun, konsumsi makanan manis juga memiliki efek lain. Kadar gula darah bisa naik dengan cepat, lalu turun drastis. Penurunan ini justru memicu rasa lapar kembali dan memperkuat keinginan untuk makan manis, menciptakan siklus yang berulang.


Selain itu, cokelat memiliki efek langsung pada otak. Kandungan seperti phenylethylamine (PEA) dapat memberikan sensasi nyaman dan meningkatkan suasana hati. Cokelat juga mengandung triptofan yang membantu produksi serotonin, yaitu zat kimia otak yang berperan dalam rasa bahagia.


Tak hanya stres, emosi lain seperti marah juga bisa memicu keinginan makan cokelat. Kondisi ini dikenal dengan istilah hangry, di mana tubuh kekurangan energi sehingga emosi menjadi lebih sulit dikendalikan.


Di sisi lain, cokelat sering disebut sebagai comfort food. Kombinasi gula dan lemak di dalamnya mampu memberikan efek menenangkan sementara, sehingga banyak orang menjadikannya pelarian saat menghadapi tekanan emosional.


Meski begitu, konsumsi cokelat tetap perlu dikontrol. Jika ingin pilihan yang lebih sehat, cokelat hitam dengan kandungan kakao minimal 70 persen bisa menjadi alternatif karena mengandung lebih banyak antioksidan.


Kesimpulannya, mengidam cokelat saat stres adalah reaksi alami tubuh yang dipengaruhi hormon, kadar gula darah, dan efek kimia pada otak. Namun, penting untuk tetap bijak dalam mengonsumsinya agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.

×