-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Jadi Target Israel

Maret 10, 2026 Last Updated 2026-03-10T07:45:19Z



Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran memicu ketegangan internasional. Israel bahkan bersumpah akan menargetkan siapa pun yang menggantikan mendiang Ali Khamenei.


Mojtaba dikenal sebagai tokoh berpengaruh di lingkar kekuasaan Iran dan memiliki kedekatan dengan militer elite negara tersebut. Ia juga telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena diduga terlibat dalam ambisi regional Iran serta represi terhadap oposisi di dalam negeri.


Penunjukan kontroversial ini membuat Mojtaba menjadi target potensial operasi eliminasi Israel. Bahkan mantan Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menolak pengangkatannya sebagai pemimpin baru Iran.


Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran


Ayatollah Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Senin (9/3/2026) oleh Assembly of Experts.


Ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel beberapa waktu lalu.


“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga sistem Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi majelis tersebut.


Sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba kini memiliki kewenangan penuh dalam hampir seluruh keputusan strategis negara, termasuk militer, keamanan, dan kebijakan luar negeri.


Sosok Misterius di Balik Kekuasaan Iran


Meski berpengaruh besar, Mojtaba dikenal sangat tertutup. Ia tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik atau mengikuti pemilu.


Namun selama bertahun-tahun, ia disebut sebagai figur penting di lingkar dalam kekuasaan ayahnya. Ia juga dilaporkan memiliki hubungan erat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elite militer Iran.


Naiknya Mojtaba ke puncak kekuasaan dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali atas pemerintahan Iran.


Kontroversi Gerakan Hijau 2009


Nama Mojtaba Khamenei tidak lepas dari berbagai kontroversi.


Sejumlah pihak menuduhnya berperan dalam penindasan terhadap demonstrasi besar yang terjadi pada 2009, dikenal sebagai Iranian Green Movement.


Gerakan tersebut muncul setelah kemenangan kembali Mahmoud Ahmadinejad dalam pemilihan presiden yang kontroversial.


Para oposisi menuduh Mojtaba menggunakan milisi Basij, yang merupakan bagian dari IRGC, untuk menindak demonstran secara brutal.


Kedekatan dengan IRGC


Hubungan Mojtaba dengan IRGC disebut telah terjalin sejak usia muda.


Ia pernah bertugas di Batalyon Habib selama beberapa operasi dalam Iran–Iraq War pada 1980-an.


Sejumlah rekan seperjuangannya kemudian memperoleh posisi penting dalam aparat keamanan dan intelijen Iran.


Dituding Memiliki Kekayaan Miliaran Dolar


Selain kontroversi politik, Mojtaba juga kerap dikaitkan dengan kekayaan besar.


Sejumlah laporan media Barat menyebut ia memiliki jaringan aset properti di berbagai negara Eropa, termasuk Inggris dan Austria.


Beberapa laporan bahkan mengaitkannya dengan properti bernilai lebih dari US$138 juta di kawasan elit London.


Selain itu, ia juga disebut memiliki investasi hotel mewah di Frankfurt dan Mallorca. Dana pembelian properti tersebut diduga berasal dari jaringan bisnis dan dana minyak Iran yang disalurkan melalui rekening di beberapa negara.


Namun tuduhan tersebut belum pernah dikonfirmasi secara langsung oleh Mojtaba.


Pernah Disanksi Amerika Serikat


Pada 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei.


Washington menilai ia menjalankan peran penting dalam pemerintahan Iran meskipun tidak pernah memegang jabatan resmi dalam struktur pemerintahan.


AS juga menuduhnya bekerja sama dengan komandan Pasukan Quds dari IRGC serta milisi Basij untuk mendorong kebijakan regional Iran yang dianggap mengganggu stabilitas.


Trump Tolak Pengangkatannya


Donald Trump menilai pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran merupakan langkah yang tidak dapat diterima.


“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” ujar Trump dalam wawancara dengan CNN.


Ia mengatakan tidak mempermasalahkan jika Iran dipimpin oleh tokoh agama, asalkan pemimpin tersebut mampu menjaga stabilitas dan hubungan baik dengan negara lain.


Israel Bersumpah Akan Memburu Pengganti Khamenei


Di sisi lain, Israel menegaskan akan menargetkan siapa pun yang menggantikan Ali Khamenei.


Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pemimpin baru Iran akan diburu di mana pun ia berada.


“Setiap pemimpin yang melanjutkan rencana menghancurkan Israel akan menjadi target eliminasi,” kata Katz.


Ia menegaskan Israel dan sekutunya akan menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran menggulingkan pemerintahan mereka.

×