-->
×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sidang Isbat Idul Fitri 2026 Digelar 19 Maret, Ini Prediksi Lebaran Menurut Pemerintah dan Muhammadiyah

Maret 08, 2026 Last Updated 2026-03-08T00:50:14Z



Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2026 pada Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H.


Sidang tersebut akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, dan menjadi dasar penentuan tanggal Lebaran secara nasional.


Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa sidang isbat dilaksanakan melalui mekanisme terpadu antara perhitungan astronomi (hisab) dan pengamatan hilal secara langsung (rukyat).


“Sidang isbat akan diawali dengan paparan posisi hilal berdasarkan data hisab, kemudian dilanjutkan dengan laporan hasil rukyat dari berbagai titik pemantauan di Indonesia,” ujar Abu Rokhmad dalam keterangan resmi Kemenag.


Prediksi Tanggal Idul Fitri 2026 Versi Pemerintah dan NU


Meski keputusan resmi menunggu sidang isbat, kalender Hijriah yang diterbitkan pemerintah memproyeksikan 1 Syawal 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.


Perkiraan ini juga sejalan dengan metode yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama, yang mengombinasikan hisab dan rukyat dalam penentuan awal bulan Hijriah.


Namun, tanggal tersebut masih bersifat prediksi. Pemerintah dan NU tetap menunggu hasil pengamatan hilal pada 29 Ramadan sebagai dasar keputusan final.


Sidang isbat sendiri biasanya dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain:


Perwakilan organisasi masyarakat Islam


Para ahli falak


Perwakilan pemerintah


Duta besar negara sahabat


Hasil sidang kemudian diumumkan kepada masyarakat melalui konferensi pers setelah salat Magrib.


Penetapan Idul Fitri 2026 Versi Muhammadiyah


Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.


Penetapan tersebut tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H.


Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu sistem perhitungan astronomi yang tidak memerlukan pengamatan langsung hilal.


Dalam metode ini, awal bulan baru ditetapkan jika:


Terjadi ijtimak (konjungsi) sebelum matahari terbenam


Posisi bulan sudah di atas ufuk saat matahari terbenam


Jika kedua syarat tersebut terpenuhi, maka keesokan harinya langsung ditetapkan sebagai awal bulan baru.


Mengapa Tanggal Lebaran Bisa Berbeda?


Perbedaan potensi tanggal Idul Fitri biasanya terjadi karena perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah.


1. Metode Muhammadiyah: Hisab Wujudul Hilal


Metode ini sepenuhnya menggunakan perhitungan astronomi tanpa menunggu hasil pengamatan hilal.


2. Metode Pemerintah dan NU: Hisab dan Rukyat


Pemerintah bersama Nahdlatul Ulama menggunakan kombinasi:


Perhitungan astronomi (hisab)


Pengamatan langsung hilal (rukyat)


Keputusan akhirnya ditentukan melalui sidang isbat.


Mengacu pada Kriteria MABIMS


Indonesia juga menggunakan kriteria visibilitas hilal yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).


Menurut kriteria tersebut, hilal dianggap mungkin terlihat apabila memenuhi batas minimal tertentu, seperti:


Ketinggian hilal minimum


Sudut elongasi bulan terhadap matahari


Jika pada 29 Ramadan posisi hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka pemerintah kemungkinan akan menetapkan Lebaran sehari setelah keputusan Muhammadiyah.


Sebaliknya, jika hilal memenuhi kriteria dan berhasil terlihat, maka Idul Fitri 2026 berpotensi dirayakan secara bersamaan.


Kesimpulannya, hingga sidang isbat digelar pada 19 Maret 2026, kemungkinan perbedaan tanggal Idul Fitri masih terbuka. Pemerintah menegaskan bahwa keputusan final akan diumumkan setelah seluruh laporan rukyat diverifikasi dalam sidang isbat.

×