Tanggal 25 Maret 1975 menjadi hari kelam dalam sejarah Arab Saudi. Pada hari itu, Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud tewas ditembak oleh keponakannya sendiri, Faisal bin Musaid, saat sedang menerima tamu resmi dari Kuwait di istana.
Peristiwa tragis ini terjadi begitu cepat. Pangeran Faisal bin Musaid yang berada di barisan penyambut tamu tiba-tiba mendekat seolah hendak memberi salam. Namun, tanpa diduga, ia mengeluarkan pistol dan menembakkan beberapa peluru ke arah sang raja dari jarak dekat. Raja Faisal sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Hingga kini, motif di balik pembunuhan tersebut masih menjadi misteri. Salah satu dugaan terkuat adalah aksi balas dendam atas kematian kakaknya, Khalid bin Musaid, yang tewas dalam bentrokan dengan aparat keamanan pada 1966 saat memprotes kebijakan modernisasi negara. Selain itu, sempat muncul klaim bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan, namun hasil pemeriksaan medis menyatakan ia dalam kondisi sadar saat melakukan aksinya.
Setelah insiden tersebut, pihak berwenang Arab Saudi melakukan penyelidikan menyeluruh, termasuk menelusuri kehidupan pelaku saat menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Meski demikian, tidak ditemukan bukti adanya konspirasi yang lebih besar.
Tak lama setelah kematian Raja Faisal, tahta kerajaan kemudian dipegang oleh Khalid bin Abdulaziz Al Saud. Sementara itu, Pangeran Faisal bin Musaid ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi secara terbuka di Riyadh pada Juni 1975.
Raja Faisal sendiri dikenal sebagai sosok pemimpin berpengaruh yang membawa banyak perubahan bagi Arab Saudi, termasuk dalam bidang modernisasi dan peran aktif di kancah internasional. Kepergiannya yang mendadak tidak hanya mengguncang negaranya, tetapi juga dunia internasional.
Peristiwa ini tetap dikenang sebagai salah satu pembunuhan politik paling mengejutkan dalam sejarah Timur Tengah, dengan motif yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya.

