Federasi sepak bola dunia FIFA mengumumkan enam negara Asia Tenggara telah mengamankan hak siar media untuk Piala Dunia 2026.
Negara tersebut meliputi Indonesia, Kamboja, Filipina, Singapura, Timor Leste, dan Vietnam.
Malaysia dan Thailand Belum Capai Kesepakatan
Di sisi lain, dua negara besar di kawasan, Malaysia dan Thailand, justru belum mendapatkan hak siar.
Media Malaysia, New Straits Times, melaporkan bahwa penggemar di negara tersebut berisiko tidak bisa menyaksikan Piala Dunia 2026 melalui televisi.
Hal ini disebabkan belum adanya kesepakatan antara stasiun televisi dan FIFA hingga saat ini.
Harga Hak Siar Jadi Kendala Utama
Salah satu faktor utama adalah tingginya harga hak siar yang ditawarkan FIFA.
Disebutkan bahwa biaya yang diminta mencapai sekitar 50 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp800 miliar.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Piala Dunia 2018, di mana stasiun televisi Malaysia hanya membayar sekitar Rp129–172 miliar.
Kondisi serupa juga terjadi di Thailand, di mana mahalnya biaya menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan.
Indonesia Sudah Aman, TVRI Pegang Hak Siar
Berbeda dengan Malaysia dan Thailand, Indonesia telah memastikan hak siar melalui TVRI.
Langkah ini mendapat apresiasi dari anggota DPR, Hendry Munief, yang menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk kehadiran negara bagi masyarakat.
Dengan hak siar ini, masyarakat Indonesia dapat menonton Piala Dunia 2026 secara gratis, termasuk menggelar nonton bareng tanpa kendala lisensi.
Dampak bagi Industri dan Masyarakat
Penyiaran Piala Dunia melalui TVRI juga dinilai dapat menjadi momentum bagi perkembangan sektor kreatif dan industri penyiaran di Indonesia.
Selain memberikan hiburan, ajang ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor jasa dan media.
Kesimpulan
Hak siar Piala Dunia 2026 di Asia Tenggara menunjukkan kesenjangan antara negara yang mampu mengamankan hak siar dan yang masih terkendala biaya tinggi. Indonesia menjadi salah satu negara yang telah siap, sementara Malaysia dan Thailand masih harus menyelesaikan negosiasi dengan FIFA.


