Kasus bayi yang nyaris tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) menjadi sorotan publik dan memicu kekhawatiran terkait keamanan pelayanan rumah sakit.
Insiden tersebut terjadi di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada Rabu, 8 April 2026, dan melibatkan seorang ibu bernama Nina Saleha.
Berdasarkan keterangan korban dan pihak rumah sakit, sejumlah fakta penting mulai terungkap.
1. Detik-detik Menegangkan, Bayi Sudah di Gendongan Orang Lain
Peristiwa bermula saat Nina hendak menjemput bayinya yang dirawat selama empat hari akibat penyakit kuning.
Namun, ia terkejut saat mendapati bayinya sudah berada dalam gendongan orang lain. Nina mengenali bayinya dari selimut yang digunakan.
“Kalau saya telat sedikit saja, mungkin anak saya sudah hilang,” ujarnya.
2. Gelang Identitas Bayi Sudah Dilepas
Fakta mengejutkan lainnya, gelang identitas bayi disebut sudah dilepas oleh perawat sebelum proses administrasi kepulangan selesai.
Perawat berdalih telah memanggil nama Nina beberapa kali, namun tidak mendapat respons karena korban sedang keluar sebentar.
3. Respons Petugas Keamanan Jadi Sorotan
Di tengah kepanikan, seorang petugas keamanan justru diduga melakukan tindakan tidak pantas.
Alih-alih membantu, petugas tersebut disebut meminjam ponsel korban dan mengubah ulasan Google Review rumah sakit menjadi lebih positif.
4. Perawat Senior Dinonaktifkan
Pihak RSHS mengonfirmasi bahwa perawat yang terlibat telah dinonaktifkan sementara.
Perawat tersebut diketahui berstatus ASN dengan masa kerja lebih dari 20 tahun. Penonaktifan dilakukan untuk proses evaluasi internal.
5. RSHS Akui Pelanggaran SOP
Manajemen rumah sakit menyampaikan permohonan maaf dan mengakui adanya pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP).
Pihak rumah sakit juga menyebut permasalahan telah diselesaikan secara kekeluargaan dengan keluarga korban.
6. Dinas Kesehatan Jabar Lakukan Evaluasi
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, memastikan akan melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan di RSHS.
Langkah ini mencakup peninjauan ulang prosedur pemberian bayi kepada pasien.
7. Gubernur Jabar Ikut Sorot Kasus
Kasus ini juga mendapat perhatian dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ia meminta penjelasan terkait sanksi bagi tenaga medis yang lalai agar kejadian serupa tidak terulang.
Kesimpulan
Kasus bayi nyaris tertukar ini menjadi pengingat pentingnya penerapan SOP yang ketat di fasilitas kesehatan. Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa depan dan menjaga kepercayaan publik terhadap layanan rumah sakit.

