Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran merespons keras serangan Israel ke Lebanon. Teheran bahkan mengancam akan menutup Selat Hormuz jika agresi tersebut terus berlanjut.
Juru bicara Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ibrahim Rezaei, menyerukan penghentian pergerakan kapal di Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap Israel. Ia juga menuntut respons militer tegas guna mencegah serangan lanjutan.
Serangan Israel ke Lebanon dilaporkan terjadi tak lama setelah pengumuman gencatan senjata yang melibatkan Donald Trump. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut tidak memasukkan Lebanon dalam kesepakatan tersebut.
Utusan Iran untuk PBB, Ali Bahraini, menegaskan pentingnya Israel mematuhi gencatan senjata. Ia juga menyatakan bahwa Iran akan sangat berhati-hati dalam melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat karena rendahnya tingkat kepercayaan.
Iran bahkan memperingatkan akan adanya konsekuensi serius jika serangan terus berlangsung. Pemerintah Teheran disebut tengah mempertimbangkan untuk menarik diri dari perjanjian gencatan senjata jika pelanggaran terus terjadi.
Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz sempat dihentikan, dengan hanya kapal Iran atau yang berasal dari Iran yang diizinkan melintas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa gencatan senjata seharusnya mencakup Lebanon. Ia juga menyebut dunia sedang mengawasi langkah Amerika Serikat dalam menegakkan komitmen tersebut.
Situasi ini memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi energi dunia. Eskalasi konflik berpotensi berdampak besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi internasional.


