-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sering Mimpi Buruk Bisa Jadi Tanda Awal Demensia, Penelitian Ungkap Risikonya

Mei 30, 2026 Last Updated 2026-05-30T11:44:19Z



Bataranews– Mimpi buruk yang sering terjadi ternyata tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga dapat menjadi tanda awal meningkatnya risiko demensia di kemudian hari.


Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dipimpin oleh peneliti neurologi dari University of Birmingham, Abidemi Otaiku, dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah eClinicalMedicine.


Mimpi Buruk Berkaitan dengan Kesehatan Otak


Penelitian menunjukkan bahwa mimpi dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan otak seseorang.


Dalam studi yang berlangsung antara 2002 hingga 2012, peneliti menganalisis data lebih dari 600 orang berusia 35 hingga 64 tahun serta sekitar 2.600 lansia berusia di atas 79 tahun yang tidak mengalami demensia saat penelitian dimulai.


Para peserta diminta melaporkan frekuensi mimpi buruk yang mereka alami, termasuk mimpi yang menyebabkan mereka terbangun di malam hari.


Hasilnya menunjukkan bahwa peserta usia paruh baya yang mengalami mimpi buruk setiap minggu memiliki risiko empat kali lebih tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif dalam kurun waktu 10 tahun berikutnya.


Risiko Demensia Lebih Tinggi pada Lansia


Pada kelompok usia lanjut, penelitian menemukan bahwa mereka yang mengalami mimpi buruk setiap minggu memiliki risiko dua kali lebih besar untuk didiagnosis demensia dibandingkan mereka yang jarang mengalaminya.


Temuan ini memperkuat dugaan bahwa gangguan tidur tertentu dapat menjadi indikator awal perubahan fungsi otak yang berkaitan dengan penyakit neurodegeneratif.


Pria Disebut Lebih Rentan


Penelitian juga menemukan adanya perbedaan risiko antara pria dan perempuan.


Pria lanjut usia yang mengalami mimpi buruk setiap minggu diketahui memiliki kemungkinan hingga lima kali lebih besar mengalami demensia dibandingkan pria yang tidak mengalami mimpi buruk.


Sementara pada perempuan, peningkatan risiko yang ditemukan relatif lebih rendah, yakni sekitar 41 persen.


Tanda Awal atau Faktor Pemicu?


Meski menemukan hubungan yang kuat, para peneliti menegaskan bahwa penelitian ini belum dapat memastikan apakah mimpi buruk menjadi penyebab demensia atau justru merupakan gejala awal dari perubahan otak yang sudah mulai terjadi.


Namun demikian, hubungan antara frekuensi mimpi buruk dan peningkatan risiko demensia dinilai cukup signifikan untuk menjadi perhatian dunia medis.


Peluang untuk Deteksi Dini


Kabar baiknya, mimpi buruk termasuk kondisi yang dapat ditangani melalui terapi medis maupun psikologis.


Beberapa penelitian sebelumnya bahkan menunjukkan bahwa penanganan mimpi buruk dapat membantu mengurangi penumpukan protein abnormal yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.


Selain meningkatkan kualitas tidur, penanganan dini terhadap gangguan mimpi juga berpotensi membantu menjaga fungsi memori dan kemampuan berpikir seseorang.


Kesimpulan


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mimpi buruk yang sering terjadi, terutama pada usia paruh baya dan lanjut, dapat berkaitan dengan peningkatan risiko demensia di masa depan. Meski hubungan sebab-akibatnya masih perlu diteliti lebih lanjut, para ahli menilai keluhan tidur seperti mimpi buruk berulang tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi petunjuk awal kondisi kesehatan otak.