Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sebanyak 21 kabupaten/kota dilaporkan masuk kategori zona hitam akibat kondisi polusi udara yang mengkhawatirkan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah tengah memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, terutama puskesmas di wilayah yang terdampak kabut asap. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kasus gangguan pernapasan akibat paparan polutan.
Setelah meninjau kondisi di Palangka Raya, Budi menyebut Kemenkes mulai mengidentifikasi daerah-daerah yang membutuhkan penanganan lebih intensif. Wilayah yang masuk kategori tersebut akan menjadi prioritas dalam upaya memperkuat layanan kesehatan dasar.
Pernyataan itu disampaikan Budi di kantor Kemenkes pada Senin (26/10/2026).
Puskesmas di Zona Hitam Wajib Siapkan Dua Tabung Oksigen Besar
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes meminta puskesmas di wilayah yang masuk zona hitam memiliki dua tabung oksigen berkapasitas besar. Ketersediaan oksigen tersebut diharapkan membantu petugas medis memberikan penanganan awal kepada pasien yang mengalami sesak napas.
Budi menjelaskan, fasilitas kesehatan tingkat pertama perlu memiliki kesiapan memadai ketika menghadapi pasien dengan gangguan pernapasan akibat kabut asap. Salah satu kondisi yang harus diwaspadai adalah penurunan saturasi oksigen dalam darah.
Dengan tersedianya tabung oksigen, pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan dapat segera memperoleh penanganan awal sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap apabila diperlukan.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi risiko memburuknya kondisi kesehatan masyarakat di tengah ancaman polusi udara akibat karhutla.
Oksigenasi Jadi Penanganan Penting bagi Pasien Sesak Napas
Menurut Budi, partikel polutan yang masuk ke saluran pernapasan dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada masyarakat yang rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Dalam kondisi tertentu, pasien dapat mengalami sesak napas hingga penurunan kadar oksigen dalam darah. Karena itu, pemberian oksigen menjadi salah satu bentuk penanganan medis yang penting bagi pasien yang mengalami kekurangan oksigen.
Namun, pemberian oksigen harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan dilakukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan. Pasien dengan gejala berat tetap membutuhkan pemeriksaan serta penanganan lanjutan sesuai kebutuhan medis.
Kesiapan puskesmas dinilai penting agar masyarakat di wilayah terdampak tidak harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan awal.
Kemenkes Dorong Pembentukan Rumah Oksigen
Selain memperkuat fasilitas kesehatan milik pemerintah, Kemenkes juga berencana mendorong keterlibatan organisasi masyarakat dan relawan dalam memperluas akses layanan bagi warga terdampak kabut asap.
Salah satu upaya yang didorong adalah pembentukan rumah oksigen, yakni fasilitas pendukung yang diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh layanan sesuai kebutuhan di tengah kondisi darurat polusi udara.
Budi mengatakan, pemerintah akan mengimbau berbagai organisasi untuk ikut berpartisipasi dan memfasilitasi upaya pembentukan fasilitas tersebut.
Pelibatan masyarakat diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan, khususnya di daerah yang menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.
Meski demikian, operasional fasilitas pendukung seperti rumah oksigen perlu memperhatikan standar keselamatan, ketersediaan tenaga terlatih, serta mekanisme rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Masyarakat Diminta Waspadai Dampak Kabut Asap Karhutla
Kabut asap akibat karhutla dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, serta menjaga kondisi ruangan agar paparan asap dari luar dapat diminimalkan.
Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau bibir tampak kebiruan, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.
Penguatan puskesmas dengan persediaan oksigen dan keterlibatan organisasi masyarakat diharapkan dapat membantu menghadapi dampak kesehatan akibat karhutla. Di sisi lain, upaya pemadaman kebakaran dan pencegahan munculnya titik api tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi sumber kabut asap dan melindungi kesehatan masyarakat.(Rhz2797)


