Notification

×

Iklan

Iklan

Badan PBB Ungkap 26 Rohingya Tewas di Lautan, 176 Terdampar di Aceh

Desember 28, 2022 WIB Last Updated 2022-12-28T08:20:42Z


Teknologi Modifikasi Cuaca alias TMC akan digunakan untuk mengantisipasi cuaca buruk yang diprediksi terjadi hingga awal tahun 2023 termasuk potensi badai dahsyat Rabu (28/12). Bagaimana mekanisme pelaksaanannya?


Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama TNI AU Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membahas kemungkinan melakukan TMC demi mengantisipasi cuaca buruk di periode Natal dan Tahun Baru 2023 (Nataru 2023).


Gerai es krim Mixue tengah menjadi perbincangan karena ekspansinya yang cepat dan harga produk yang terbilang murah.

Cukup dengan merogoh kocek Rp8.000 saja, pembeli sudah bisa menikmati satu porsi es krim cone berukuran besar. Tercatat harga paling mahal untuk es krim dari perusahaan asal China ini hanya dibanderol Rp16 ribu.


Sementara untuk milk tea harga dibanderol dari Rp10.000 hingga Rp22 ribu, tergantung varian dan topping.


Lantas mengapa harga produk Mixue bisa murah?


Melansir Foodtalks, Rabu (28/12), Mixue pertama kali didirikan oleh Zhang Hongchaio pada 1997. Modal awal untuk membangun bisnis itu adalah sebesar 4.000 yuan atau setara Rp9 juta (asumsi kurs Rp2.252 per yuan).


Bisnis Mixue pun berkembang. Pada 2007, Zhang membuka hak waralaba. Kala itu, lusinan toko dibuka dengan cepat di Provinsi Henan, tempat kantor pusat berada.


Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) menyatakan setidaknya 26 orang Rohingya yang mengungsi dari Myanmar telah tewas saat terapung di laut selama sekitar satu bulan.

UNHCR mendapat data itu berdasarkan keterangan dari 174 pengungsi yang berhasil diselamatkan nelayan dan pihak berwenang Indonesia pada Senin (26/12).


"Penyintas dari 174 orang yang tiba kemarin [Senin] menceritakan kepada UNHCR bahwa sekitar 26 orang tewas selama perjalanan panjang ini karena kondisi yang memprihatinkan di atas kapal," demikian pernyataan resmi UNHCR, Selasa (27/12).


Kapal yang ditumpangi orang-orang Rohingya berupa kapal kayu berukuran kecil yang dianggap rentan melakukan perjalanan panjang melintasi samudera. Sebelumnya, disebutkan para pengungsi Rohingya itu bermaksud ke Malaysia lewat laut sebelum terdampar di Aceh.


Selain laporan itu, UNHCR mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia karena telah menyelamatkan dan mau menampung kelompok pengungsi etnis Rohingya yang telah terombang-ambing di lautan selama sekitar sebulan.


Pada Minggu (25/12), nelayan dan pihak berwenang Indonesia juga berhasil menyelamatkan 58 orang Rohingya. Jika diakumulasikan dengan kedatangan kelompok itu pada Senin, tercatat 232 Rohingya diselamatkan dalam dua hari.


"Kami menyambut baik tindakan kemanusiaan ini oleh masyarakat lokal dan pihak berwenang di Indonesia," kata Perwakilan UNHCR di Indonesia, Ann Mayman.


Pihaknya menyatakan , "Tindakan ini membantu menyelamatkan nyawa manusia dari kematian, mengakhiri cobaan yang menyiksa bagi banyak orang yang putus asa."


UNHCR melaporkan para pengungsi yang diselamatkan mengalami dehidrasi usai terombang-ambing di lautan sebelum terdampar dan dievakuasi ke Aceh Besar.


Badan PBB itu menilai hal tersebut menunjukkan komitmen dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip dasar kemanusiaan bagi orang-orang yang menghadapi persekusi dan konflik. Oleh karena itu, UNHCR mendesak negara-negara lain untuk mengikuti tindakan serupa. Banyak negara yang tak bertindak meskipun banjir permintaan.


"Negara-negara di wilayah tersebut harus memenuhi kewajiban hukum mereka dengan menyelamatkan orang-orang di kapal yang sedang dalam kesulitan untuk menghindari kesengsaraan dan kematian lebih lanjut," demikian pernyataan resmi UNHCR.


Kapal Kayu pembawa imigran Rohingya terdampar di Pantai Desa Ladong, Aceh Besar, Minggu (25/12/2022). (Dok. humas Bakamla)


Sebelumnya, Bakamla RI dalam tim gabungan bersama Polariud, Lanal Sabang, unsur terkait di Pemkab Aceh Besar, dan Kantor Imigrasi Aceh bekerja sama dalam operasi evakuasi kapal kayu berisi imigran ilegal Rohingya dari Myanmar yang terdampar di Pantai Desa Ladong, Aceh Besar, Minggu (25/12).


"Imigran ilegal Suku Rohingya tersebut berlayar dari Myanmar menuju Malaysia. Naas nasibnya, kapal tersebut mengalami kerusakan mesin dan terombang-ambing di atas laut kira-kira sebulan lamanya," demikian dikutip dari rilis Bakamla.


Sehari kemudian, ratusan imigran Rohingya yang menggunakan kapal kayu terdampar lagi di Aceh yakni di pantai Desa Ujong Pie, Kabupaten Pidie pada Senin (26/12).


Mereka mengakui bahwa tujuan awal mereka ingin ke Negeri Jiran Malaysia. Namun, karena kondisi kapal yang rusak dan stok makanan terbatas, mereka akhirnya menuju ke Aceh.


Kedatangan Imigran Rohingya ini menambah deretan panjang jumlah mereka yang terdampar di Aceh. 


Berdasarkan catatan UNHCR, sepanjang 2022 setidaknya ada 2.000 imigran Rohingya yang melakukan perjalanan di Laut Andaman dan Teluk Benggala. Dari jumlah tersebut nyaris 200 orang meninggal.


UNHCR juga menerima laporan satu perahu tambahan dengan sekitar 180 orang masih hilang. Semua penumpang juga disebut tewas. Namun, data itu belum bisa dikonfirmasi.[sb]

×
Berita Terbaru Update