Notification

×

Iklan

Iklan

Mengenal Virus 'Zombie' 48.500 Tahun yang Dibangkitkan dari Es Siberia

Desember 02, 2022 WIB Last Updated 2022-12-02T13:59:01Z


Virus berusia 48.500 tahun menjadi salah satu yang berhasil dihidupkan kembali dari daratan beku atau permafrost di Siberia, Rusia, oleh Ilmuwan dari Pusat Penelitian Ilmiah Prancis.


Mikroba itu menjadi salah satu dari 13 sampel yang diteliti. Sembilan sampel di antaranya diperkirakan berusia puluhan ribu tahun. Peneliti juga memastikan sampel tersebut memiliki perbedaan gen dari semua virus lain yang telah diketahui.


Selain itu, peneliti juga menemukan bulu mammoth hingga usus serigala Siberia yang terkubur di bawah permafrost. Penemuan itu kemudian mendukung kesimpulan bahwa virus yang hidup masih berpotensi menjadi patogen menular.


"Situasinya akan jauh lebih berbahaya jika tanaman, hewan, atau penyakit manusia disebabkan oleh kebangkitan virus kuno yang tidak diketahui," tulis para peneliti seperti dikutip dari Science Alert.


"Oleh karena itu sah untuk mendalami risiko partikel virus kuno tetap menular seiring dengan mencairnya lapisan permafrost kuno," lanjut pernyataan tersebut.


Penelitian ini dilakukan seiring dengan pemanasan global yang menyebabkan daratan beku itu mencair hingga menghidupkan kembali berbagai mikroba yang selama ini membeku.


"Seperempat belahan Bumi utara ditopang oleh tanah beku permanen, yang disebut permafrost," tulis para peneliti.


"Karena pemanasan global, permafrost yang mencair secara permanen melepaskan bahan organik yang membeku hingga jutaan tahun, yang sebagian besar terurai menjadi karbon dioksida dan metana," lanjut para peneliti.


Tim peneliti yang terlibat dalam penemuan virus memang dibentuk untuk menggali virus di Siberia. Pada penelitian sebelumnya, peneliti mempelajari penemuan virus berusia 30 ribu tahun.


Virus tersebut termasuk kategori pandoravirus, yakni virus yang cukup besar untuk dapat dilihat dengan mikroskop cahaya.


Sementara itu, virus terbaru yang berusia 50 ribu tahun diberi nama Pandoravirus yedoma. Nama tersebut sesuai dengan ukuran dan jenis tanah permafrost tempat virus itu ditemukan.


Tim ahli yang dipimpin oleh ahli mikrobiologi Jean-Marie Alempic dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis mengatakan virus yang hidup kembali ini berpotensi menjadi ancaman yang signifikan bagi masyarakat.


Syaratnya, daratan beku itu mencair dan membuat virus yang terkubur itu bangkit bak zombie. Untungnya, pemanasan global belum sampai tahap itu.


"Seperempat Belahan Bumi Utara ditopang oleh tanah beku permanen, yang disebut permafrost," tulis para peneliti dalam makalah mereka.


"Karena pemanasan iklim, permafrost yang mencair secara permanen melepaskan bahan organik yang membeku hingga satu juta tahun, yang sebagian besar terurai menjadi karbon dioksida dan metana, yang semakin meningkatkan efek rumah kaca."


Ahli virologi dari University of California, Eric Delwart, sepakat bahwa virus raksasa tersebut merupakan permulaan untuk mengeksplorasi apa yang tersembunyi di bawah permafrost.


Meski tidak terlibat dalam penelitian ini, Delwart memiliki berbagai pengalaman menghidupkan kembali virus tumbuhan purba.


"Jika peneliti benar-benar mengisolasi virus hidup dari permafrost kuno, kemungkinan virus mamalia yang lebih kecil dan lebih sederhana juga akan bertahan dalam keadaan beku selama ribuan tahun," tutur Delwart.


Penelitian mengenai virus berusia 50 ribu tahun tersebut hingga saat ini belum melalui proses peer-review, tetapi bisa diakses lewat situs bioRxiv.[SB]

×
Berita Terbaru Update