Film Pelangi di Mars menjadi salah satu karya lokal yang meramaikan momen Lebaran 2026. Disutradarai oleh Upie Guava, film ini hadir dengan konsep sci-fi keluarga yang terbilang ambisius dan berbeda dari kebanyakan film Indonesia.
Proses produksinya bahkan sudah dimulai sejak 2020, dengan mengusung teknologi canggih dan pendekatan futuristik. Namun, alih-alih mendapat pujian penuh, film ini justru menuai berbagai kritik sejak awal penayangannya dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Lantas, apa saja yang menjadi sorotan?
1. Dituding Menggunakan AI Secara Berlebihan
Salah satu kritik paling ramai adalah dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses produksi.
Sejumlah penonton menilai visual film terasa kurang natural dan terlalu “digital”. Menanggapi hal ini, Upie Guava memberikan klarifikasi bahwa AI memang digunakan, tetapi hanya sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.
Ia menjelaskan bahwa film ini memadukan berbagai teknologi seperti virtual production, XR (extended reality), motion capture (mocap), hingga Unreal Engine. Meski demikian, seluruh proses tetap digerakkan oleh ide, rasa, dan kerja para kreator.
2. Ramai Tudingan Adanya Buzzer
Selain soal teknologi, film ini juga diterpa isu adanya buzzer dalam promosi.
Sebagian warganet merasa respons positif terhadap film ini terlihat terlalu masif dan tidak sepenuhnya organik. Namun, tudingan tersebut langsung dibantah oleh sang sutradara.
Upie Guava menegaskan bahwa tidak ada strategi promosi instan yang bisa memaksa penonton menyukai sebuah film. Menurutnya, keberhasilan tetap ditentukan oleh respons nyata dari penonton.
3. Dialog Terlalu Kekinian untuk Latar Futuristik
Kritik lain yang cukup sering muncul adalah soal dialog.
Beberapa penonton menilai percakapan dalam film terasa terlalu “zaman sekarang”, padahal latar cerita berada di Mars pada tahun 2090. Penggunaan istilah seperti “keranjang kuning” hingga jargon viral seperti “kamu nanya” dianggap kurang selaras dengan dunia futuristik yang dibangun.
Selain itu, ada juga kritik terhadap alur cerita dan penulisan dialog yang dinilai belum cukup kuat untuk mendukung konsep besar film ini.
Eksperimen Berani yang Picu Perdebatan
Terlepas dari pro dan kontra, Pelangi di Mars tetap menjadi langkah berani dalam industri perfilman Indonesia. Film ini mencoba menghadirkan sesuatu yang baru, baik dari sisi teknologi maupun konsep cerita.
Di satu sisi, inovasi ini patut diapresiasi. Namun di sisi lain, ekspektasi tinggi dari penonton juga membuat setiap kekurangan menjadi sorotan.
Pada akhirnya, film ini bukan sekadar tontonan, tapi juga bahan diskusi tentang arah masa depan film Indonesia.
Kalau kamu sendiri, sudah nonton Pelangi di Mars? Tim pro atau kontra nih? 👀

