Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Air Terdeteksi di Permukaan Asteroid untuk Pertama Kali

Februari 16, 2024 Last Updated 2024-02-16T12:13:12Z


Air merupakan hal yang umum ditemukan di Bumi dan juga sangat penting bagi sumber kehidupan planet ini.


Namun, air di luar angkasa hingga kini masih menjadi misteri, sehingga para ahli masih terus mencari keberadaannya.


Selain mencari di Bulan maupun Mars, peneliti sekarang berusaha lebih jauh lagi untuk menemukan air, salah satunya di sabuk asteroid serta menyelidiki apakah benda-benda yang seharusnya tidak mengandung air malah menyebunyikannya.


Dari hasil penyelidikannya itu, peneliti menemukan air di permukaan asteroid untuk pertama kali.


Air di permukaan asteroid


Mengutip IFL Science, Kamis (15/2/2024) peneliti dari berbagai institusi di seluruh Amerika telah menggunakan data dari Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA) untuk mengamati empat asteroid silikat kering.


Keempat asteroid itu adalah Iris, Parthenope, Melpomene, dan Massalia, semuanya berada di Sabuk Asteroid utama.


Asteroid tersebut terbentuk dekat dengan Matahari sehingga seharusnya tidak mengandung air.


Akan tetapi peneliti malah mendeteksi fitur yang secara jelas dikaitkan dengan molekul air di asteroid Iris dan Massalia.


Pengamatan sebelumnya terhadap asteroid tidak dapat membedakan antara air sebenarnya dan kerabat kimia terdekatnya, hidroksil.


Dalam penelitian baru ini, peneliti berhasil mengatasi kebingungan itu dan memperkirakan bahwa terdapat tanda molekul air di permukaan yang setara dengan sekitar 350 mililiter air dalam satu meter kubik tanah.


"Asteroid merupakan sisa dari proses pembentukan planet, sehingga komposisinya berbeda-beda tergantung di mana ia terbentuk di nebula Matahari," papar Anicia Arredondo, penulis utama studi dari Southwest Research Institute, dalam sebuah pernyataan.


Dan tentu saja yang menarik adalah distribusi air di asteroid karena itu dapat menjelaskan bagaimana air dikirim ke Bumi.


Melansir Science Alert, analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya distribusi air di seluruh Tata Surya.


Tetapi sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, tim sekarang akan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb yang memiliki kualitas optik lebih tinggi dan rasio sinyal terhadap kebisingan yang jauh lebih baik untuk mempelajari lebih lanjut temuan itu.


Temuan ini dipublikasikan di The Planetary Science Journal.

×