Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Perdebatan Seputar Kontrol Senjata Api di AS

Februari 29, 2024 Last Updated 2024-02-29T02:13:14Z


KEKERASAN dengan senjata api merupakan salah satu penyebab utama kematian bagi anak-anak dan pemuda di Amerika Serikat (AS). Ketersediaan dan kemudahan akses pada senjata api dan amunisi telah memicu diskusi nasional setelah beberapa kali kasus penembakan massal terjadi di lingkungan sekolah. Namun, Kongres AS berulang kali gagal meloloskan legislasi senjata api meskipun besarnya dukungan publik bagi pembatasan senjata.


Beberapa tahun terakhir terjadi kasus kekerasan senjata api terburuk dalam sejarah AS. Tahun 2021, senjata api membunuh lebih dari 45 ribu warga AS, jumlah tertinggi dalam beberapa dekade, dan tren peningkatan kemungkinan akan terus berlanjut.


Kepemilikan senjata api di AS berakar pada Amandemen Kedua Konstitusi: "Milisi yang teratur diperlukan untuk keamanan negara yang merdeka, hak rakyat untuk memiliki dan membawa senjata tidak boleh dilanggar."


Menurut laporan terbaru Small Arms Survey yang berbasis di Swiss (2018), AS, dengan jumlah penduduk kurang dari 5 persen penduduk dunia, memiliki 46 persen dari total senjata sipil di dunia. AS menempati peringkat pertama dalam jumlah senjata api per kapita. AS juga memiliki tingkat pembunuhan dengan senjata api tertinggi di antara negara-negara maju di dunia. Banyak pendukung hak kepemilikan senjata api mengatakan, statistik ini tidak menunjukkan hubungan sebab akibat.


Walau diizinkan, hak untuk membawa senjata sebetulnya bersifat terbatas. Kongres AS dan legislatif negara bagian memiliki wewenang untuk membuat undang-undang pengendalian, dan Mahkamah Agung AS telah mengesahkan beberapa pembatasan senjata api, seperti larangan senjata tersembunyi dan kepemilikan jenis senjata tertentu, serta larangan penjualan senjata api kepada beberapa kategori individu.


Undang-Undang Kontrol Senjata Api tahun 1968 melarang antara lain individu di bawah delapan belas tahun, kriminal, orang dengan gangguan jiwa, personel militer yang dipecat secara tidak terhormat untuk membeli senjata api. Tahun 1993, Undang-Undang Pencegahan Kekerasan dengan Senjata Api Brady mengamanatkan pemeriksaan latar belakang untuk semua individu tidak berlisensi yang membeli senjata api dari penjual yang diotorisasi pemerintah federal.


Namun beberapa undang-undang senjata api tidak bertahan dalam tinjauan yudisial. Sebagai contoh, tahun 2008 Mahkamah Agung AS membatalkan sebuah undang-undang di Washington, DC, yang melarang pistol.


Hukum federal menyediakan dasar untuk regulasi senjata api di AS, tetapi negara-negara bagian dan kota-kota dapat memberlakukan pembatasan lebih lanjut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa negara-negara bagian dengan undang-undang senjata api yang lebih ketat, seperti California atau Hawaii, memiliki angka kematian akibat senjata api yang lebih rendah, meskipun para peneliti mengatakan diperlukan analisis lebih lanjut.


Dalam beberapa tahun terakhir, Kongres telah memperdebatkan perubahan pada undang-undang senjata api yang ada, biasanya pasca-penembakan massal yang mencolok, seperti di Las Vegas tahun 2017 ketika 60 orang tewas, atau di Parkland, Florida, tahun 2018 yang menewaskan 17 orang.


Namun dalam hampir setiap kasus, legislasi akhirnya gagal mendapatkan dukungan yang cukup. Rancangan undang-undang yang tidak berhasil ini mencakup langkah-langkah seperti larangan senjata serbu, pemeriksaan latar belakang yang diperluas, dan larangan penjualan senjata api kepada orang-orang yang terdaftar dalam daftar pantau teroris federal.


Pada pertengahan 2022, tidak ada undang-undang federal yang melarang senjata serbu semi-otomatis, senjata kaliber .50 bergaya militer, pistol, atau magasin berkapasitas besar. Selain itu, tidak ada juga persyaratan federal bagi mereka yang membeli senjata api untuk mengikuti pelatihan keamanan senjata api apa pun. Pada tahun 1994, ada larangan federal terhadap senjata serbu dan magasin berkapasitas besar, tetapi Kongres membiarkan pembatasan tersebut berakhir.


Banyak dari mereka yang mendukung adanya kontrol senjata api mengatakan bahwa AS seharusnya belajar dari negara-negara demokratis lainnya yang telah menerapkan pembatasan lebih ketat untuk menekan kekerasan senjata api.


Kanada


Kepemilikan senjata api juga relatif tinggi di Kanada, sekitar tiga puluh lima senjata api per seratus penduduk (peringkat kelima secara global). Namun, negara ini tidak mengalami tingkat kekerasan senjata api yang serupa seperti di AS. Pemerintah Kanada menetapkan pembatasan senjata api yang juga mengacu pada provinsi, wilayah, dan munisipalitas.


Seperti tetangganya di selatan, undang-undang senjata api Kanada dipicu oleh tragedi kekerasan senjata api. Tahun 1989, seorang mahasiswa bersenapan semi-otomatis membunuh 14 siswa dan melukai lebih dari selusin orang lain di sebuah sekolah teknik di Montreal. Insiden ini secara luas diakui telah mendorong reformasi besar-besaran terkait senjata api. Kanada memberlakukan periode penantian 28 hari sebelum pembelian untuk calon pembali; kewajiban kursus pelatihan keamanan; pemeriksaan latar belakang yang lebih rinci; larangan pada magasin berkapasitas besar; dan larangan atau pembatasan lebih ketat pada senjata api dan amunisi bergaya militer.


Australia


Titik balik kontrol senjata modern di Australia adalah tragedi pembantaian Port Arthur tahun 1996, ketika seorang pria muda membunuh 35 orang dan melukai hampir 20 lainnya. Pembantaian tersebut, yang dilakukan dengan senapan semi-otomatis adalah penembakan massal terburuk dalam sejarah Australia.


Kurang dari dua minggu kemudian, pemerintah nasional yang dipimpin partai konservatif melakukan perubahan mendasar pada undang-undang senjata negara tersebut dengan kerja sama berbagai negara bagian dan wilayah yang mengatur senjata api.


Perjanjian Nasional tentang Senjata Api atau PDF melarang senapan serbu otomatis dan semi-otomatis, mewajibkan lisensi dan registrasi, dan memberlakukan program pembelian kembali senjata api sementara. Program pembelian kembali senjata api sementara ini berhasil menarik sekitar 650.000 senjata api serbu (sekitar sepertujuh dari stok nasional) dari peredaran publik.


Undang-undang tersebut juga mensyaratkan pemegang lisensi untuk menunjukkan "kebutuhan yang sah" untuk jenis senjata tertentu dan mengikuti kursus keamanan senjata api.


Setelah penembakan massal lainnya di Melbourne tahun 2002, undang-undang senjata api (pistol) Australia juga diperketat. Banyak analis mengatakan bahwa tindakan ini sangat efektif, dilihat dari adanya penurunan tingkat kematian akibat senjata api dan kasus penembakan massal terkait senjata api.


Setelah peningkatan penjualan senjata api pada tahun 2017, para pendukung kontrol senjata api di Australia memperingatkan terhadap pelonggaran undang-undang senjata api di beberapa negara bagian dan wilayah. Saat ini, Australia memiliki lebih banyak senjata api yang beredar daripada sebelum pembantaian Port Arthur, meskipun jumlah orang yang memilikinya telah turun selama periode yang sama.


Israel


Kegiatan wajib militer dan senjata adalah bagian dari kehidupan sehari-hari warga Israel. Sebagian besar populasi memiliki akses tidak langsung ke senjata serbu baik sebagai tentara atau tentara cadangan. Secara hukum, sebagian besar warga yang berusia delapan belas tahun diwajibkan untuk dinas militer, disaring secara psikologis, dan diberikan pelatihan senjata setidaknya setelah lulus sekolah menengah. Setelah dua atau tiga tahun di angkatan bersenjata, sebagian besar warga Israel diberhentikan dan diharuskan tunduk pada undang-undang senjata sipil.


Negara ini memiliki regulasi senjata yang relatif ketat, termasuk larangan senjata serbu, keharusan mendaftarkan kepemilikan kepada pemerintah, dan batasan satu senjata per pemilik. Untuk mendapatkan lisensi senjata api, seorang pelamar harus menjadi warga negara Israel atau penduduk tetap, dan lulus pemeriksaan kesehatan.


Persyaratan usia minimum bervariasi: 27 tahun untuk warga negara tanpa pengalaman dinas militer atau dinas nasional, 21 tahun bagi mereka yang telah berdinas, dan 45 tahun bagi penduduk tetap yang bukan warga negara. Pelamar juga harus menunjukkan alasan yang sah untuk membawa senjata api, seperti bela diri atau berburu.


Inggris Raya


Upaya kontrol senjata modern di Inggris Raya juga dipicu oleh tindakan kekerasan senjata api yang memicu kemarahan publik. Tahun 1987, seorang penembak dengan dua senapan semi-otomatis dan sebuah pistol melakukan penembakan selama enam jam, sekitar tujuh puluh mil di barat laut London, membunuh lebih dari 11 orang dan kemudian bunuh diri.


Pasca insiden yang dikenal sebagai Pembantaian Hungerford tersebut, Inggris memperkenalkan Firearms (Amendment) Act, yang memperluas daftar senjata yang dilarang, termasuk beberapa senapan semi-otomatis dan meningkatkan persyaratan registrasi untuk senjata lainnya.


Tragedi terkait senjata api di kota Skotlandia, Dunblane tahun 1996 memicu undang-undang senjata api Inggris Raya yang paling ketat hingga saat ini. Seorang pria dengan empat pistol menembak dan membunuh 16 anak sekolah dan seorang dewasa sebelum bunuh diri. Kejadian ini memicu kampanye publik yang dikenal sebagai Petisi Snowdrop, yang membantu mendorong undang-undang yang melarang pistol dengan sedikit pengecualian. Pemerintah juga memberlakukan program pembelian kembali senjata api.


Sebagian besar petugas polisi di Inggris juga tidak membawa senjata api, membedakan mereka dari rekan-rekan di AS dan negara-negara lain. Senjata dibatasi untuk unit polisi yang secara khusus dilatih untuk merespons keadaan darurat tertentu atau dikerahkan untuk operasi tertentu. Para pendukung kebijakan tersebut mengatakan bahwa petugas yang tidak bersenjata melambangkan pengawasan masyarakat dengan persetujuan dan bukan dengan kekerasan.


Jepang


Pendukung kontrol senjata sering mengutip regulasi senjata api yang sangat ketat di Jepang seiring dengan tingkat kematian akibat senjata api yang sangat rendah. Hampir setiap tahun, kurang dari seratus warga Jepang meninggal akibat kekerasan senjata api di negara berpenduduk 125 juta orang itu. Sebagian besar senjata api ilegal di negara ini dan tingkat kepemilikan yang cukup rendah menjadi pemicu hal ini.


Di bawah undang-undang senjata api dan pedang Jepang, satu-satunya senjata yang diperbolehkan adalah senapan patah (senapan gantel), senapan udara, senjata dengan tujuan penelitian atau industri tertentu, atau yang digunakan untuk perlombaan. Namun, sebelum akses ke senjata api khusus ini diberikan, seseorang harus mendapatkan instruksi formal dan lulus serangkaian tes tertulis, mental, dan narkoba, serta pemeriksaan latar belakang yang ketat. Selain itu, pemilik harus memberitahu pihak berwenang bagaimana senjata dan amunisinya disimpan serta bersedia memberikan senjata api mereka untuk pemeriksaan tahunan.


Beberapa analis mengaitkan tidak begitu berminatnya orang Jepang terhadap senjata api dengan demilitarisasinya setelah Perang Dunia II. Pendapat lain mengatakan bahwa karena tingkat kejahatan di negara ini sangat rendah, sebagian besar orang Jepang tidak merasa perlu memiliki senjata api.

×