Provinsi Bali kembali mencatatkan diri dalam sejarah infrastruktur nasional lewat kehadiran Tol Bali Mandara, jalan tol pertama di Indonesia yang dibangun di atas laut. Proyek ambisius bernilai Rp1,76 triliun itu berdiri megah di kawasan Bali Selatan—wilayah dengan UMK tertinggi di Bali tahun 2025, yakni Rp3,53 juta.
Meski teknologinya maju dan desainnya ikonik, tol ini justru ramai disorot karena dianggap sepi pengguna, terutama akibat tarif yang dinilai terlalu mahal untuk kebutuhan harian warga lokal.
Tol Laut Pertama: Menghubungkan 3 Titik Vital Bali
Membentang sepanjang 12,7 km di kawasan perairan Teluk Benoa, Tol Bali Mandara (sebelumnya Tol Nusa Dua–Ngurah Rai–Benoa) menghubungkan tiga lokasi strategis:
Nusa Dua
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai
Pelabuhan Benoa
Diresmikan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 23 September 2013, tol ini dibangun dengan 14 ribu titik tiang pancang dan menjadi jalan tol pertama yang memiliki jalur khusus sepeda motor—inovasi yang belum pernah ada saat itu.
Keberadaan tol ini juga menjadi bukti pesatnya pembangunan Bali. Kabupaten Badung bahkan tercatat sebagai daerah terkaya di provinsi tersebut dengan PDRB triwulan II 2025 mencapai Rp20,56 triliun.
Ikonik, Tapi Kenapa Justru Sepi Pengguna?
Menurut Gibran Sesunan, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS), salah satu akar masalahnya adalah studi kelayakan yang terlalu optimistis sejak tahap awal pembangunan.
“Optimisme berlebihan membuat proyeksi lalu lintas tidak sesuai kondisi sebenarnya. Banyak proyek akhirnya merugi dan kesulitan memenuhi standar layanan,” ujar Gibran.
Dengan kata lain, realitas mobilitas warga Bali tidak mendukung ekspektasi lalu lintas yang dipasang pada saat perancangan proyek.
Tarif Tol Dinilai Terlalu Mahal
Selain proyeksi yang meleset, tarif Tol Mandara menjadi isu terbesar. Banyak pengguna memilih jalur alternatif seperti Bypass Ngurah Rai, meski lebih padat, karena ongkosnya lebih murah.
Tarif Tol Bali Mandara 2025:
Golongan I: Rp14.000
Golongan II: Rp21.000
Golongan III: Rp21.000
Golongan IV: Rp28.000
Golongan V: Rp28.000
Golongan VI (motor): Rp5.500
Bagi masyarakat yang bepergian tiap hari, nominal tersebut dinilai berat dan tidak sebanding dengan jarak tempuh.
Target Lalu Lintas Tak Pernah Tercapai
Tol Bali Mandara dirancang untuk memangkas kemacetan parah di jalur-jalur utama Bali Selatan. Namun laporan sejumlah lembaga menunjukkan bahwa volume kendaraan tak pernah mendekati target awal, baik dari Kementerian Perhubungan maupun Kementerian PUPR.
Kini, tol laut kebanggaan Bali itu tetap menjadi ikon arsitektur modern Indonesia—indah, unik, dan megah—tetapi belum menjadi pilihan utama pengguna jalan.

