-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kisah Mbah Kirno Dikurung 20 Tahun dalam Kandang Besi, Keluarga Sebut Punya Ilmu Sakti

Januari 30, 2026 Last Updated 2026-01-30T08:24:00Z



Kisah memilukan datang dari Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. Seorang pria lanjut usia bernama Mbah Kirno (60) diketahui hidup terkurung di dalam kandang besi selama hampir 20 tahun di belakang rumah keluarganya.


Mbah Kirno hidup di ruang sempit yang dikelilingi jeruji besi, menyerupai kandang, dengan ukuran sekitar 0,5 meter lebar, 1 meter tinggi, dan 2 meter panjang. Kondisi tersebut membuatnya menjalani kehidupan sehari-hari tanpa pernah benar-benar bebas menginjak tanah.


Alasan Keluarga Mengurung Mbah Kirno


Menurut pengakuan Sarti, adik kandung Mbah Kirno, keputusan mengurung sang kakak bukan tanpa alasan. Ia menyebut Mbah Kirno mengalami gangguan kejiwaan (ODGJ) sejak muda setelah mendalami ilmu kebatinan tingkat tinggi.


“Dia dulu sering mencari ilmu. Tapi usianya belum cukup kuat untuk menerima ilmu tingkat tinggi, akhirnya batinnya tidak kuat,” ujar Sarti, Rabu (28/1/2026).


Kondisi tersebut disebut membuat Mbah Kirno menjadi agresif dan kerap mengancam keselamatan keluarga.


Dianggap Membahayakan, Keluarga Mengaku Trauma


Sarti mengungkapkan bahwa Mbah Kirno pernah menganiaya anggota keluarga dan mengancam akan membunuh. Rasa takut itulah yang mendorong keluarga mengambil langkah ekstrem dengan mengurungnya dalam kandang besi.


“Kami takut. Suami saya, nenek saya, pernah dianiaya. Dia juga mengancam mau membunuh,” tegasnya.


Klaim Kesaktian: Makan Besi hingga Minum Oli


Hal yang membuat cerita ini makin mengundang perhatian adalah klaim keluarga soal kesaktian Mbah Kirno. Sarti mengaku menyaksikan sendiri kemampuan yang dianggap tidak masuk akal.


“Dia makan besi, makan bambu pakai gigi. Minum oli satu liter, makan api juga tidak apa-apa. Saya lihat sendiri,” katanya.


Klaim inilah yang memperkuat keyakinan keluarga bahwa Mbah Kirno berbahaya jika dilepas.


Tetap Diberi Makan dan Minum


Meski dikurung, keluarga mengaku tetap memenuhi kebutuhan dasar Mbah Kirno. Ia diberi makan tiga kali sehari, minum, bahkan kopi di pagi hari.


“Kasihan sebenarnya, dia kan kakak saya. Saya makan apa, kakak saya juga saya kasih,” tutur Sarti.


Sorotan Publik dan Isu Kemanusiaan


Kasus Mbah Kirno memunculkan keprihatinan publik dan memantik diskusi soal hak asasi manusia, penanganan ODGJ, serta minimnya akses layanan kesehatan mental di daerah.


Banyak pihak menilai bahwa pengurungan selama puluhan tahun bukan solusi, melainkan bentuk pelanggaran kemanusiaan yang perlu penanganan serius dari pemerintah dan tenaga medis.


Kesimpulan


Kisah Mbah Kirno bukan hanya cerita tentang “kesaktian” atau ketakutan keluarga, tetapi juga potret kelam kurangnya pemahaman dan penanganan terhadap gangguan kesehatan mental. Kasus ini diharapkan menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

×