Warga Ibu Kota bersiap menghadapi jalanan yang lebih lengang saat Mudik Lebaran 2026. PT Jasa Marga memprediksi sekitar 3,5 hingga 3,6 juta kendaraan akan meninggalkan Jakarta selama periode mudik tahun depan.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyampaikan bahwa jumlah arus keluar tersebut sebanding dengan arus balik. Hal ini disampaikan dalam diskusi publik Mudik Outlook 2026 yang digelar Kompas TV di Menara Kompas, Jakarta Pusat, pada 27 Januari 2026.
📅 Puncak Arus Mudik Lebaran 2026
Berkaca pada data mudik tahun sebelumnya, puncak arus mudik Lebaran 2026 diprediksi terjadi pada 22 Maret 2026, dengan sekitar 258.000 kendaraan melintas dalam satu hari.
Sebaran tujuan pemudik diperkirakan sebagai berikut:
50% menuju Tol Trans-Jawa
29% ke arah Merak
Sisanya ke arah Ciawi
Dari kendaraan yang melintasi Tol Trans-Jawa, sekitar 51% diproyeksikan menuju Semarang, sementara sisanya melanjutkan perjalanan ke wilayah Cipularang dan sekitarnya.
🚦 Rekayasa Lalu Lintas dan Teknologi
Untuk mengantisipasi kepadatan, Jasa Marga akan mengandalkan:
Pemantauan kamera di ruas tol dan jalan arteri
Pengelolaan rest area
Sensor ketinggian air untuk antisipasi banjir
Aplikasi Travoy untuk informasi lalu lintas real time, rest area, dan pelaporan gangguan
🛣️ 4 Tol Fungsional Gratis Lebaran 2026
Guna mendukung kelancaran arus mudik, Jasa Marga menyiapkan empat ruas tol fungsional tanpa tarif dengan total panjang 121,64 km, yaitu:
1️⃣ Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japek II Selatan)
Fungsional: 54,75 km
Setu–Sukaragam: 10,50 km
Sukaragam–Bojongmangu: 13 km
Bojongmangu–Sadang: 31,25 km
2️⃣ Tol Yogyakarta–Bawen
Segmen Ambarawa–Bawen: 4,98 km
3️⃣ Tol Yogyakarta–Solo
Segmen Prambanan–Purwomartani: 12,23 km
4️⃣ Tol Probolinggo–Banyuwangi (Tahap I)
Total fungsional: 49,68 km
Gending–Kraksaan: 12,88 km
Kraksaan–SS Paiton: 11,20 km
SS Paiton–Besuki: 25,60 km
💸 Diskon Tarif Tol Masih Menunggu Keputusan
Terkait diskon tarif tol Lebaran 2026, hingga kini belum ada keputusan resmi dari pemerintah. Menurut Rivan, diskon tarif bertujuan untuk mendistribusikan waktu perjalanan agar tidak terjadi penumpukan kendaraan pada satu hari tertentu.
“Diskon bukan sekadar potongan harga, tapi bagian dari strategi distribusi arus lalu lintas,” tegas Rivan.

