-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ribuan Kapal Nelayan Padati Dermaga Kali Asin Muara Angke, Aktivitas Melaut Tersendat

Januari 29, 2026 Last Updated 2026-01-29T11:03:53Z



Kepadatan kapal di Dermaga Kali Asin, Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, kian memprihatinkan. Ribuan kapal nelayan terlihat saling berhimpitan, sehingga menyulitkan pergerakan kapal, baik yang hendak masuk dari laut maupun yang akan berangkat melaut, Rabu (28/1/2026).


Kondisi ini membuat aktivitas bongkar muat, pengisian bahan bakar, hingga keberangkatan melaut terganggu. Bahkan, kapal-kapal harus menunggu berhari-hari hanya untuk bisa bergerak keluar dari dermaga.


🚢 “Macet Horor” di Laut Muara Angke


Salah satu pemilik kapal, James Wuling, menyebut kepadatan dermaga sudah terjadi sejak November 2025 dan terus memburuk hingga sekarang.


“November sudah parah ini, macetnya sudah parah,” kata James saat ditemui di lokasi.


Ia mengungkapkan, kapal miliknya membutuhkan waktu hingga dua hari dua malam hanya untuk masuk ke dermaga akibat padatnya lalu lintas kapal.


“Kapal kami mau masuk aja, ya Allah, itu dua hari dua malam. Padahal kalau jalan kaki, lima menit atau sepuluh menit juga sampai ujung dermaga,” ujarnya.


Padatnya kapal juga membuat aktivitas keluar-masuk, bongkar muat, serta pengisian BBM kerap saling berbenturan dan memicu gesekan antarnelayan.


James memperkirakan, saat ini terdapat lebih dari 1.000 kapal yang terparkir di Dermaga Kali Asin. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), total kapal di kawasan Muara Angke mencapai sekitar 2.500 unit.


📉 Omzet Nelayan Turun hingga 30 Persen


Kepadatan dermaga berdampak langsung pada penurunan pendapatan nelayan dan pemilik kapal. James mengaku omzet usahanya turun sekitar 30 persen dalam dua bulan terakhir.


“Omzet saya menurun, kurang lebih 30 persen dalam dua bulan ini,” ungkapnya.


Sejak kondisi dermaga memuncak, laba bersih usahanya hanya berkisar Rp 700–800 juta, jauh dari kondisi normal. Padahal, ia mengaku selalu taat membayar PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).


Menurut James, tertahannya kapal di dermaga tidak hanya menghambat aktivitas melaut, tetapi juga berdampak pada rantai distribusi ikan, khususnya di Jakarta.


“Kalau kapal tidak bisa berangkat, bisa terjadi kelangkaan ikan. Itu kerugiannya luar biasa,” tuturnya.


Selain itu, kepadatan dermaga juga berisiko menurunkan kualitas ikan. Meski kapal dilengkapi freezer, sistem pendinginan membutuhkan pasokan air laut yang memadai.


“Kalau kualitas turun, harga jual pasti turun. Itu kerugian yang nyata,” jelasnya.


🏛️ Nelayan Pertanyakan Peran Pemerintah


James menilai, masalah utama kepadatan dermaga bukan pada keterbatasan lahan, melainkan lemahnya pengaturan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


“Ini sebenarnya mudah selesai asal Pemprov turun tangan. Kalau Pemprov enggak turun, kami sebagai masyarakat mau bagaimana?” ucapnya.


Ia mengaku sudah beberapa kali melaporkan kondisi tersebut kepada Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan (UP3) Muara Angke, namun hingga kini belum ada solusi nyata.


“Sudah sering kasih masukan. Saya sudah laporkan ke UP3, tapi tindak lanjutnya belum jelas,” kata James.


Menurutnya, alasan yang kerap disampaikan pihak pengelola antara lain terkait dokumen kapal, cuaca ekstrem, serta perizinan yang belum keluar.


🗣️ Tanggapan Gubernur DKI dan UP3


Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta segera menuntaskan kesemrawutan lalu lintas kapal di Muara Angke.


“Saya sudah meminta Dishub dan KKP untuk bekerja sama menangani persoalan pengaturan kapal keluar-masuk,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu.


Sementara itu, Kepala UP3 Muara Angke Mahad menjelaskan, kepadatan kapal dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya cuaca ekstrem pada Desember 2025 hingga Januari 2026 yang membuat banyak kapal menunda keberangkatan.


Selain itu, masih terdapat kapal yang belum melengkapi dokumen, sehingga belum bisa berlayar. Hal ini membuat kapal-kapal dari laut kesulitan masuk kolam labuh untuk mengisi perbekalan.


“Dengan kondisi kepadatan seperti sekarang, kami sulit membantu olah gerak kapal karena tidak ada ruang sama sekali,” ujar Mahad.


⚙️ Solusi yang Disiapkan


UP3 Muara Angke berencana melakukan sejumlah langkah, antara lain:


Penambahan sarana pendukung kolam labuh


Penambahan dermaga tambat labuh


Pengerukan kolam labuh untuk menambah kapasitas


Penegakan zona sesuai Panduan Rancang Kota


Langkah tersebut diharapkan dapat mengurai kepadatan kapal dan mengembalikan kelancaran aktivitas nelayan di Pelabuhan Muara Angke.

×