Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sepi Pembeli Terompet Tahun Baru, Perajin di Purworejo Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Januari 01, 2026 Last Updated 2026-01-01T07:28:44Z



Suara terompet yang dulu identik dengan euforia pergantian tahun kini kian jarang terdengar. Menjelang Tahun Baru 2025, suasana justru terasa senyap, menyimpan kisah pilu para penjual terompet tradisional yang harus berjuang keras demi menyambung hidup.


Kondisi ini dirasakan langsung oleh Budi Kurniawan (55), perajin sekaligus penjual terompet asal Desa Baledono, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Puluhan tahun menggantungkan hidup dari terompet Tahun Baru, Budi kini harus menghadapi kenyataan pahit: lapak sepi, pembeli nyaris tak ada.


Pernah Rugi Belasan Juta Rupiah


Budi mengaku pernah mengalami kegagalan besar saat berjualan terompet beberapa tahun lalu. Kala itu, ia membuka lapak di wilayah Kutoarjo bersama sekitar 20 pedagang lainnya.


“Pernah gagal total. Modal sampai Rp15 juta habis, tapi terompet tidak laku,” tutur Budi, Rabu (31/12/2025).


Meski terpukul, ia memilih tidak sepenuhnya meninggalkan keterampilan yang telah ia tekuni sejak lama. Bagi Budi, membuat terompet bukan sekadar berdagang, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya.


Modal Diperkecil, Harapan Tetap Ada


Memasuki awal 2025, Budi kembali mencoba peruntungan. Dengan modal jauh lebih kecil, sekitar Rp2 juta, ia memproduksi sekitar 200 terompet buatan tangan sendiri.


Terompet tersebut dijual dengan harga Rp10 ribu per buah, lebih murah dibandingkan produk pabrikan. Namun, harapan kembali bertepuk sebelah tangan.


“Dari pagi sampai sore, belum ada yang beli,” ujarnya lirih sambil menata terompet warna-warni yang menggantung rapi di lapaknya.


Hiburan Digital Geser Tradisi


Menurut Budi, menurunnya minat terhadap terompet Tahun Baru tak lepas dari perubahan pola hiburan masyarakat. Kehadiran ponsel pintar dan hiburan digital membuat tradisi lama perlahan ditinggalkan.


“Sekarang orang lebih asyik main HP. Terompet itu identiknya cuma buat Tahun Baru. Dulu masih bisa dipakai untuk acara lain,” keluhnya.


Meski begitu, Budi menegaskan bahwa terompet buatannya murni untuk hiburan dan tidak pernah dikaitkan dengan kepentingan politik maupun agama.


Perajin Terompet Sejak 1990


Tak banyak yang tahu, Budi bukan penjual terompet biasa. Sejak 1990, ia telah menekuni dunia perajin terompet dan dikenal sebagai salah satu pembuat terompet tradisional berpengalaman di Purworejo.


Tangannya piawai menciptakan berbagai desain unik, mulai dari bentuk naga, karakter hewan, hingga model kreatif lainnya. Keahliannya membuat Budi kerap menjadi rujukan pedagang terompet dari berbagai daerah, seperti Kemiri, Katerban, hingga Kutoarjo.


Sebelum fokus menjadi perajin, Budi juga pernah menjalani profesi sebagai penjual mainan keliling, berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menyambung hidup.


Bertahan di Tengah Zaman yang Berubah


Kini, meski usia tak lagi muda dan pasar semakin menyempit, Budi tetap bertahan dengan keterampilan yang dimilikinya. Baginya, terompet bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol tradisi yang perlahan tergerus zaman.


“Ya semoga ke depan bisa lebih baik, anak-anak bisa main terompet seperti dulu lagi,” harapnya.


Kisah Budi Kurniawan menjadi potret nyata ketangguhan pelaku usaha kecil di tengah derasnya perubahan zaman. Di balik sunyinya bunyi terompet Tahun Baru, tersimpan harapan sederhana agar tradisi tetap hidup dan jerih payah perajin tetap dihargai.

×