Saat menonton film, penonton kerap disuguhi sosok villain yang jahat tanpa alasan rumit. Motifnya sering klise: ingin berkuasa, mengejar kekayaan, atau sekadar menikmati kekacauan. Tipe penjahat seperti ini memang mudah dibenci, tetapi ceritanya cenderung hitam-putih dan mudah ditebak.
Namun, dunia perfilman juga menghadirkan tipe antagonis yang jauh lebih kompleks dan membekas di ingatan. Mereka bukan penjahat tanpa tujuan. Sebaliknya, niat mereka justru terbilang mulia, bahkan terkadang sejalan dengan tujuan sang pahlawan. Masalahnya, cara yang dipilih untuk mencapai tujuan tersebut salah arah, ekstrem, dan sering kali tidak manusiawi.
Inilah deretan villain film dengan niat baik, tetapi memilih jalan yang keliru dan penuh kekerasan.
1. Thanos (Avengers: Infinity War & Endgame)
Thanos percaya bahwa alam semesta akan hancur akibat kelebihan populasi dan keterbatasan sumber daya. Pengalaman menyaksikan kehancuran planet asalnya membuat ia yakin bahwa keseimbangan harus ditegakkan demi kelangsungan hidup semesta.
Namun, solusi yang dipilih Thanos sangat mengerikan. Ia melenyapkan separuh dari seluruh kehidupan di alam semesta secara acak. Niat untuk menyelamatkan justru diwujudkan melalui genosida berskala kosmik.
2. Magneto / Erik Lehnsherr (X-Men Series)
Magneto ingin melindungi kaum mutan dari penindasan manusia. Trauma masa kecil sebagai penyintas Holocaust membuatnya yakin bahwa diskriminasi dan kekerasan akan selalu terulang.
Alih-alih memilih jalur damai seperti Charles Xavier, Magneto percaya bahwa menyerang lebih dulu adalah satu-satunya cara bertahan hidup. Ia menjadi ekstrem demi mencegah sejarah kelam kembali terulang.
3. Killmonger / N’Jadaka (Black Panther)
Killmonger tumbuh di tengah ketidakadilan rasial dan penindasan sistemik. Ia ingin menggunakan teknologi Wakanda untuk membebaskan orang-orang tertindas di seluruh dunia.
Sayangnya, perjuangan tersebut ditempuh melalui kekerasan dan revolusi bersenjata. Killmonger rela menciptakan perang global demi keadilan versinya sendiri.
4. Ozymandias / Adrian Veidt (Watchmen)
Ozymandias berambisi menghentikan perang nuklir yang mengancam umat manusia. Ia yakin dunia hanya bisa bersatu jika memiliki musuh bersama.
Untuk mewujudkannya, ia mengorbankan jutaan nyawa warga sipil demi menciptakan perdamaian global. Sebuah keputusan dingin yang memicu dilema moral besar: menyelamatkan miliaran dengan membunuh jutaan.
5. Ra’s al Ghul (Batman Begins)
Ra’s al Ghul ingin membersihkan dunia dari korupsi dan kejahatan yang dianggap sudah tak bisa diselamatkan. Kota-kota besar seperti Gotham dipandang sebagai sumber kebusukan.
Solusi yang ia pilih adalah kehancuran total. Baginya, kehancuran adalah awal dari keseimbangan baru, meski harus mengorbankan jutaan nyawa.
6. Poison Ivy / Dr. Pamela Isley (Batman & Robin)
Poison Ivy berjuang menyelamatkan lingkungan dan alam dari kerakusan manusia. Ia melihat manusia sebagai ancaman terbesar bagi kelangsungan planet Bumi.
Namun, obsesinya pada alam membuatnya membenci manusia sepenuhnya. Ia rela memusnahkan umat manusia demi memberi ruang hidup bagi tumbuhan.
Deretan villain ini membuktikan bahwa penjahat tak selalu digerakkan oleh niat jahat semata. Mereka lahir dari luka, trauma, dan idealisme yang salah arah. Film-film ini pun mengajak penonton merenung: apakah tujuan yang baik bisa membenarkan cara yang kejam?
Meski tindakan mereka tak bisa dibenarkan, kompleksitas karakter inilah yang membuat para villain tersebut justru lebih membekas dibanding sang pahlawan.

