-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

AS Siagakan Patriot dan THAAD, Ini Opsi Militer Trump Hadapi Iran

Februari 06, 2026 Last Updated 2026-02-06T04:33:53Z



Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat seiring pengerahan kekuatan militer besar-besaran Washington di kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln, jet tempur siluman F-35, enam kapal perusak, kapal tempur pesisir, serta sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD sebagai sinyal kesiapan menghadapi eskalasi konflik.


Patriot dan THAAD menjadi tulang punggung sistem pertahanan rudal berlapis AS. Patriot berfungsi mencegat pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik taktis pada fase akhir, sementara THAAD dirancang menghancurkan rudal balistik pada ketinggian tinggi, termasuk di luar atmosfer. Kombinasi keduanya membentuk sistem multi-tiered defense yang bertujuan melindungi pangkalan AS dan sekutunya dari serangan Iran.


Meski Trump menyatakan pintu diplomasi masih terbuka, ia terus melontarkan ancaman “serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika Teheran menolak kesepakatan baru. Sebaliknya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa perang apa pun akan meluas menjadi konflik regional.


Opsi Militer yang Dipertimbangkan AS


Berdasarkan laporan Wall Street Journal dan New York Times, Gedung Putih dan Pentagon tengah mengkaji beberapa skenario:


1. Serangan terbatas dan simbolis

Operasi cepat dan presisi yang menargetkan fasilitas nuklir utama, lokasi produksi dan peluncuran rudal balistik, serta markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Tujuannya menekan Iran agar kembali bernegosiasi tanpa memicu perang berkepanjangan.


2. Serangan udara skala besar

Gelombang serangan masif terhadap infrastruktur militer, energi, dan kepemimpinan Iran. Opsi ini dinilai berisiko tinggi karena dapat memicu balasan luas dari Iran dan jaringan proksinya, termasuk Hizbullah, Hamas, dan Houthi.


3. Ancaman militer disertai diplomasi koersif

Pengerahan militer digunakan sebagai alat tekan untuk memaksa kesepakatan yang mencakup penghentian pengayaan uranium, pembatasan rudal balistik, dan penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi regional.


Para analis menilai opsi ketiga paling mungkin ditempuh Trump, meski tetap mengandung risiko eskalasi jika Iran memilih bertahan.


Risiko Perang Regional


Analis memperingatkan bahwa tidak ada opsi militer yang benar-benar rendah risiko. Serangan terbatas bisa memicu balasan rudal terhadap pangkalan AS dan sekutu seperti Israel, sementara operasi besar berpotensi menciptakan instabilitas jangka panjang tanpa jaminan perubahan rezim di Teheran.


Erdogan Tawarkan Mediasi


Di tengah ketegangan, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menyatakan kesiapan negaranya menjadi mediator antara AS dan Iran. Erdogan menegaskan penolakan terhadap perang baru di Timur Tengah dan mendorong penyelesaian krisis melalui dialog.


Upaya diplomasi ini muncul setelah AS melaporkan insiden penembakan drone Iran di kawasan, serta peringatan Trump bahwa waktu untuk kesepakatan “hampir habis”. Erdogan berharap mediasi Turkiye dapat mencegah konflik terbuka yang melibatkan kekuatan militer besar dan mengguncang stabilitas kawasan.

×