Haul ke-74 pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, Nyai Nur Khodijah, mengungkap fakta baru terkait tahun wafat ulama perempuan pelopor pesantren putri di Indonesia tersebut.
Selama ini, catatan tentang wafatnya istri KH Bisri Syansuri itu berbeda-beda di berbagai sumber, mulai dari 1949, 1952, 1953, 1955 hingga 1958.
🔎 Penelusuran Sanad Temukan Tahun Pasti
Peneliti sanad tiga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), M Faishol, menjelaskan perbedaan tersebut terjadi karena metode pencatatan masa lalu sering menggunakan patokan peristiwa, bukan tanggal pasti.
Menurutnya, jika menggunakan perhitungan Hijriah, maka haul pada 2023 sebenarnya merupakan haul ke-70, bukan ke-74.
Kesaksian keluarga juga memperkuat data tersebut. Informasi dari mantan santri yang merupakan ibu Faishol menyebutkan bahwa saat Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulungnya belum lahir (Desember 1955), sehingga mengarah pada tahun wafat sebelum itu.
📚 Bukti dari Kitab Lama
Temuan penting muncul setelah ditemukan buku Risalah Akhir Sanah di Perpustakaan Ndalem Kasepuhan. Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa Nyai Nur Khodijah wafat pada:
🗓️ 22 Ramadhan 1374 Hijriah
📅 Bertepatan dengan Ahad, 15 Mei 1955
👵 Dalam usia 63 tahun
Faishol menilai penulisan tahun 1375 dalam buku tersebut kemungkinan kekeliruan kecil, karena data lain menunjukkan tahun yang tepat adalah 1374 H.
Menariknya, Nyai Nur Khodijah juga lahir pada bulan yang sama, yakni Ramadhan:
🎂 Lahir: 21 Ramadhan 1314 H (23 Februari 1897)
🕊️ Wafat: 22 Ramadhan 1374 H (15 Mei 1955)
👩🏫 Pelopor Pesantren Putri Indonesia
Nyai Nur Khodijah dikenal sebagai tokoh perempuan yang merintis pendidikan pesantren khusus putri di Indonesia. Selama sekitar 38 tahun, ia mendampingi KH Bisri Syansuri mengasuh pesantren di Denanyar.
Ia merupakan putri pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah, lahir sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara.
Pada usia sekitar 17 tahun, ia menikah dengan KH Bisri Syansuri pada 1914. Beberapa tahun kemudian:
📍 1917: Pesantren putra didirikan di Denanyar
📍 1919: Pesantren khusus putri didirikan
Lembaga ini kemudian menjadi pionir pendidikan perempuan berbasis pesantren, membekali santri dengan ilmu agama, pengajian kitab kuning, serta kemampuan membaca Al-Qur’an.
Sejumlah tokoh perempuan pesantren ternama juga pernah berguru kepadanya, termasuk keponakannya sendiri dari keluarga KH Abdul Wahab Hasbullah.
Warisan perjuangan Nyai Nur Khodijah hingga kini tetap dikenang sebagai tonggak penting dalam sejarah pendidikan Islam perempuan di Indonesia. 🌙

