Sejumlah negara di Asia mulai mengantre untuk membeli minyak dari Rusia di tengah terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Negara seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Indonesia, hingga Sri Lanka dilaporkan mulai meningkatkan minat untuk mengimpor minyak Rusia.
Berdasarkan laporan Reuters, lonjakan permintaan ini berpotensi membuat kebutuhan pasar melampaui kemampuan pasokan Rusia dalam waktu dekat.
Pasar Energi Global Terguncang
Situasi ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan tersebut menghambat distribusi minyak global, termasuk terganggunya jalur vital seperti Selat Hormuz.
Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak dunia terdampak, sehingga mendorong negara-negara mencari alternatif sumber energi, termasuk dari Rusia.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut tingginya permintaan dari pasar alternatif bisa membuat Rusia kesulitan memenuhi kebutuhan tambahan.
Rusia Beralih ke Pasar Asia
Sejak konflik dengan Ukraina, Rusia kehilangan banyak pelanggan dari Eropa. Kini, sekitar 80% ekspor minyak Rusia diserap oleh India dan China, disusul Turki.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, permintaan dari Asia Tenggara dan Asia Selatan mulai meningkat signifikan.
Di sisi lain, kemampuan Rusia untuk meningkatkan ekspor juga terbatas. Sekitar 40% kapasitas minyaknya dilaporkan terdampak serangan drone dari Ukraina.
Filipina dan Thailand Mulai Bergerak
Filipina tercatat telah membeli dua kargo minyak jenis ESPO Blend dengan total sekitar 1,5 juta barel. Ini menjadi pembelian pertama dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, Thailand dan Sri Lanka juga dilaporkan tengah menjajaki kerja sama pasokan minyak dengan Rusia.
Perdana Menteri Vietnam bahkan telah melakukan kunjungan ke Moskow untuk mendorong kerja sama energi jangka panjang, termasuk peningkatan pasokan minyak mentah.
Indonesia Buka Peluang Impor
Di dalam negeri, Indonesia juga membuka peluang impor minyak dari Rusia. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemerintah mempertimbangkan semua opsi demi menjaga pasokan energi.
Saat ini, kebutuhan minyak Indonesia mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Kekurangan tersebut selama ini dipenuhi melalui impor.
“Yang penting bagi kita sekarang bagaimana ketersediaan barang dan harganya kompetitif,” ujar Bahlil.
Kesimpulan
Lonjakan permintaan minyak Rusia dari negara-negara Asia mencerminkan perubahan peta energi global akibat konflik geopolitik. Meski menjadi peluang bagi Rusia, keterbatasan produksi bisa menjadi tantangan besar jika permintaan terus meningkat.
Di tengah situasi ini, negara-negara pengimpor—termasuk Indonesia—dituntut cermat dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus mempertimbangkan faktor harga dan risiko geopolitik.

