Pernah merasa pikiran justru semakin aktif saat malam hari? Ketika tubuh lelah dan ingin istirahat, otak malah sibuk memutar ulang kejadian, memikirkan masa depan, atau bahkan hal-hal kecil yang seharusnya sepele. Fenomena ini dikenal sebagai overthinking malam hari, dan ternyata ada penjelasan ilmiahnya.
Salah satu penyebab utamanya berkaitan dengan Sistem saraf otonom. Di malam hari, tubuh mulai memasuki fase istirahat, tetapi tidak semua bagian otak langsung “tenang”. Justru, bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan refleksi diri masih aktif.
Selain itu, hormon Kortisol (hormon stres) bisa tetap tinggi jika kita mengalami tekanan sepanjang hari. Ketika malam tiba dan distraksi berkurang, pikiran yang tertunda ini muncul kembali ke permukaan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan aktivitas Default Mode Network (DMN), yaitu jaringan otak yang aktif saat kita tidak melakukan aktivitas tertentu. DMN sering memicu pikiran reflektif, termasuk penyesalan masa lalu atau kekhawatiran masa depan.
Di sisi lain, produksi hormon Melatonin yang membantu tidur bisa terganggu jika kita terlalu banyak berpikir atau terpapar cahaya dari gadget. Akibatnya, tubuh sulit rileks dan justru semakin terjebak dalam lingkaran overthinking.
Menariknya, overthinking di malam hari juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Suasana yang sepi dan minim gangguan membuat otak “punya ruang” untuk memproses hal-hal yang sebelumnya tertunda.
Untuk mengatasinya, beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:
Mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur
Menulis isi pikiran (journaling) agar beban mental berkurang
Melakukan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam
Menjaga pola tidur yang konsisten
Overthinking di malam hari sebenarnya adalah cara otak mencoba memproses pengalaman dan emosi. Namun, jika berlebihan, hal ini bisa mengganggu kualitas tidur dan kesehatan mental.
Dengan memahami cara kerja otak, kita bisa lebih bijak mengelola pikiran agar malam kembali menjadi waktu istirahat yang tenang.

