Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyerukan agar Arab Saudi mengusir pasukan Amerika Serikat dari wilayahnya. Pernyataan ini muncul beberapa hari setelah Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di Saudi.
Melalui pernyataannya di media sosial, Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap menghormati Arab Saudi sebagai “negara saudara”. Namun, ia menyebut kehadiran militer AS sebagai sumber ketegangan dan menilai pasukan tersebut tidak mampu menjamin keamanan kawasan.
Serangan Iran dilaporkan menyasar Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Al-Kharj. Dalam insiden tersebut, sejumlah personel militer AS dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk beberapa yang mengalami cedera serius. Selain itu, serangan juga merusak sejumlah aset militer, termasuk pesawat pengisian bahan bakar dan drone.
Iran juga mengklaim telah menghancurkan pesawat peringatan dini milik AS, yakni Boeing E-3 Sentry. Foto yang beredar menunjukkan pesawat tersebut dalam kondisi hancur parah, meski klaim ini belum sepenuhnya dikonfirmasi secara independen.
Hubungan antara AS dan Arab Saudi sendiri telah berlangsung lama, dengan kerja sama militer yang mencakup beberapa pangkalan dan ribuan personel AS yang ditempatkan di negara tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga memicu kontroversi lewat pernyataannya terkait hubungan dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman. Dalam sebuah pidato, Trump menyampaikan komentar bernada merendahkan sekaligus menyinggung keterlibatan negara-negara Teluk dalam konflik kawasan.
Situasi ini menambah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya konflik antara Iran dan sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut.

