Bataranews – Di sudut Yogyakarta, tepatnya di kawasan Mergangsan, kisah perjuangan hidup seorang lansia menyentuh hati banyak orang.
Sumartiwi (76), yang akrab disapa Mbah Tiwi, setiap hari tetap berjualan di warung rames sederhana demi menyambung hidup, meski usia tak lagi muda dan kondisi fisik mulai melemah.
Bertahan Hidup dari Warung Sederhana
Warung kecil bernama Warung Mbah Tiwi yang berada di Jalan Kolonel Sugiono menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi dirinya.
Gerobak berwarna biru yang telah memudar menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya sejak tahun 2001. Bahkan saat masa sulit seperti gempa, Mbah Tiwi tetap bertahan dengan berjualan menggunakan tenda sederhana.
Perjuangan Setiap Pagi
Setiap hari, Mbah Tiwi menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer dari rumahnya di Kotagede menuju warungnya.
Ia mengayuh sepeda onthel selama kurang lebih satu jam, berangkat sejak pukul 07.00 pagi.
Di perjalanan, ia juga menyempatkan diri membeli bahan dagangan seperti ayam dan tempe dari pedagang sekitar.
Memasak dengan Cara Tradisional
Sesampainya di warung, Mbah Tiwi langsung memasak. Ayam goreng dibuat menggunakan tungku arang, memberi cita rasa khas pada masakannya.
Dengan tangan yang mulai renta, ia tetap telaten membolak-balik ayam di atas minyak panas, lalu melanjutkan menggoreng tempe untuk pelanggannya.
Tetap Berjualan Meski Hujan
Cuaca tak selalu bersahabat. Saat hujan turun, Mbah Tiwi harus memasang terpal sederhana untuk melindungi warungnya.
Namun, terpal yang sudah berlubang membuat air masih masuk. Meski kebasahan, ia tetap melanjutkan aktivitasnya dengan mengenakan jas hujan seadanya.
Hidup Seorang Diri, Tetap Tangguh
Mbah Tiwi hidup sebatang kara, namun tetap berusaha mandiri tanpa bergantung pada orang lain.
Warung kecilnya bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga simbol keteguhan dan semangat hidup di usia senja.
Kesimpulan
Kisah Mbah Tiwi menjadi potret nyata perjuangan hidup yang penuh keteguhan. Di tengah keterbatasan usia dan kondisi, ia tetap bekerja keras demi bertahan hidup.
Cerita ini mengingatkan bahwa semangat dan kemandirian bisa hadir dari siapa saja, bahkan dari sosok sederhana di pinggir jalan Kota Gudeg.
