Bataranews – Di antara kisah besar Bani Israil, tersimpan sosok pemberani yang jarang disebut: Nabi Yusha.
Namanya tidak disebut langsung, namun keberaniannya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu dari dua orang beriman yang menentang rasa takut kaumnya.
Saat Semua Takut, Yusha Berdiri Tegak
Ketika Bani Israil diperintahkan masuk ke tanah suci, mereka justru gentar.
Mereka berkata (maknanya):
"Di dalamnya ada kaum yang kuat, kami tidak akan masuk sebelum mereka keluar."
Namun di tengah ketakutan itu, muncul dua orang beriman—salah satunya diyakini adalah Nabi Yusha.
Allah berfirman:
"Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang telah diberi nikmat oleh Allah: ‘Masuklah kamu melalui pintu gerbang itu. Jika kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang…’"
(QS. Al-Ma'idah: 23)
Di saat semua mundur, Yusha justru maju.
Akibat Takut: 40 Tahun Tersesat
Sayangnya, mayoritas tetap menolak.
Akibatnya, Allah menghukum mereka dengan tersesat di padang pasir selama 40 tahun.
Allah berfirman:
"Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berputar-putar di bumi…"
(QS. Al-Ma'idah: 26)
Ini menjadi bukti bahwa ketakutan bisa menghalangi kemenangan yang sudah di depan mata.
Yusha, Pemimpin Generasi Baru
Setelah wafatnya Nabi Musa, tongkat kepemimpinan berpindah.
Generasi lama yang penuh ketakutan telah berlalu.
Kini, Yusha memimpin generasi baru—generasi yang lebih siap, lebih berani, dan lebih percaya kepada Allah.
Mukjizat yang Menggetarkan (Dari Hadits)
Dalam riwayat hadits, diceritakan bahwa saat hampir menang dalam peperangan, matahari hampir terbenam.
Yusha berdoa kepada Allah…
Dan matahari ditahan hingga kemenangan diraih.
Meski kisah ini tidak disebut dalam Al-Qur’an, para ulama meriwayatkannya sebagai bagian dari keutamaan beliau.
Pesan Mendalam
Kisah Nabi Yusha mengajarkan:
Jangan jadi bagian dari orang yang takut melangkah
Satu orang berani bisa melawan ketakutan banyak orang
Kemenangan datang kepada yang yakin, bukan yang ragu
Penutup
Namanya mungkin tidak disebut langsung dalam Al-Qur’an, tapi sikapnya diabadikan.
Di saat banyak orang memilih mundur, Yusha memilih maju.
Dan dari situlah, sejarah berubah.


