Bataranews – Eropa Perjalanan Kylian Mbappé di Liga Champions UEFA kembali berakhir pahit. Meski dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dunia, Mbappe masih belum mampu meraih trofi paling prestisius di level klub tersebut.
11 Tahun Tanpa Gelar Liga Champions
Sejak memulai karier profesional pada 2015, Mbappe selalu tampil konsisten mencetak gol, baik bersama:
AS Monaco
Paris Saint-Germain
Real Madrid
Timnas Prancis
Namun, satu hal yang belum berhasil ia raih adalah trofi Liga Champions.
Bersama PSG, pencapaian terbaiknya hanyalah runner-up musim 2019–2020, meski sempat bermain dengan bintang besar seperti Neymar dan Lionel Messi.
Gabung Real Madrid, Hasil Tetap Sama
Kepindahan Mbappe ke Real Madrid pada 2024 diharapkan menjadi jalan menuju trofi UCL. Apalagi Los Blancos dikenal sebagai raja Eropa dengan koleksi gelar terbanyak.
Namun kenyataannya:
Musim pertama: tersingkir oleh Arsenal
Musim terbaru: kembali gagal setelah kalah dari Bayern Munich
Di leg kedua perempat final, Madrid kalah 3-4, setelah sebelumnya juga takluk 1-2 di leg pertama.
Ironi: PSG Juara Setelah Ditinggal
Ironisnya, setelah ditinggal Mbappe, PSG justru berhasil menjuarai Liga Champions musim 2024–2025.
Kini, PSG bahkan berpeluang meraih gelar beruntun setelah kembali lolos ke semifinal.
Tertinggal dari Rival
Jika dibandingkan dengan pemain lain:
Cristiano Ronaldo sudah juara di musim ke-6
Lionel Messi lebih cepat meraih trofi
Erling Haaland sudah juara di tahun ke-8 kariernya
Hal ini membuat Mbappe terlihat tertinggal dalam hal prestasi tim, khususnya Liga Champions.
Tetap Tajam Secara Individu
Meski gagal secara tim, Mbappe tetap tampil luar biasa secara individu.
Musim ini ia:
Mencetak 15 gol di Liga Champions
Menjadi pemain pertama dengan 10 gol tandang dalam satu musim
Mengoleksi 70 gol hanya dalam 97 laga
Ia juga menjadi pemain termuda yang mencapai 70 gol, bahkan lebih cepat dari Lionel Messi.
Kesimpulan
Kylian Mbappe terus menunjukkan kualitas luar biasa sebagai individu, namun trofi Liga Champions masih menjadi “kutukan” yang belum terpecahkan.
Dengan usia yang masih relatif muda, peluang masih terbuka. Namun tekanan akan semakin besar jika ia terus gagal meraih trofi paling bergengsi di Eropa tersebut.


