Bataranews– Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh Rp17.423 per dolar AS, mendorong Bank Indonesia menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas.
Rupiah Tertekan Meski Fundamental Kuat
Bank Indonesia menilai rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued meski fundamental ekonomi nasional masih solid.
Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen, inflasi rendah, serta cadangan devisa yang kuat menjadi dasar optimisme bahwa rupiah akan kembali stabil dan menguat.
Tekanan Global dan Faktor Musiman
Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global seperti tingginya suku bunga Amerika Serikat dan penguatan dolar AS.
Selain itu, faktor musiman seperti kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri, serta kebutuhan haji turut meningkatkan permintaan dolar dalam periode April hingga Juni.
7 Strategi BI Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia menyiapkan tujuh langkah utama, mulai dari intervensi pasar valas, memperkuat aliran modal asing, hingga menjaga likuiditas perbankan.
Langkah penting lainnya adalah pembatasan pembelian dolar AS menjadi maksimal USD 25 ribu per bulan tanpa underlying, guna menekan permintaan berlebih.
Langkah Pemerintah Perkuat Pembiayaan
Pemerintah juga mendorong diversifikasi pembiayaan dengan menerbitkan obligasi dalam mata uang selain dolar AS.
Strategi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan memperkuat stabilitas ekonomi nasional ke depan.
π§Ύ Kesimpulan
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, rupiah diyakini tetap memiliki prospek positif. Sinergi kebijakan BI dan pemerintah menjadi kunci menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global.
