adidas kembali memperluas lini sepatu larinya dengan menghadirkan Hyperboost Edge, sepatu yang dirancang untuk memberikan pengalaman berlari lebih nyaman, ringan, dan responsif.
Berbeda dari sejumlah sepatu performa yang mengandalkan pelat untuk menghasilkan sensasi dorongan, Hyperboost Edge hadir sebagai sepatu lari ringan tanpa pelat atau non-plated. adidas mengandalkan teknologi busa terbaru untuk mengikuti gerakan alami kaki sekaligus memberikan respons energi saat berlari.
Sepatu ini menggabungkan tiga teknologi utama, yakni Hyperboost Pro pada midsole, PRIMEWEAVE pada bagian upper, serta LIGHTTRAXION pada outsole. Kombinasi tersebut menjadi dasar konsep yang diusung adidas untuk menghadirkan keseimbangan antara bantalan, pengembalian energi, dan bobot ringan.
Hyperboost Edge Hanya Berbobot 255 Gram
Salah satu daya tarik utama Hyperboost Edge adalah bobotnya. Sepatu ini memiliki berat sekitar 255 gram, sehingga dirancang untuk tetap terasa ringan ketika digunakan dalam berbagai sesi latihan.
Tanpa konstruksi pelat yang kaku, adidas mengembangkan sistem bantalan yang dapat mengikuti pergerakan kaki secara lebih natural. Pendekatan tersebut ditujukan agar pelari mendapatkan perpaduan antara kenyamanan dan responsivitas.
Patrick Nava, GM adidas Running, mengatakan Hyperboost Edge merupakan bagian dari inovasi adidas dalam menggabungkan tiga aspek penting dalam sepatu lari, yaitu bantalan, energi, dan bobot ringan.
Menurutnya, ketiga elemen tersebut dikembangkan agar pelari mendapatkan sepatu yang terasa ringan, responsif, sekaligus tetap memiliki bantalan ketika kaki menyentuh permukaan.
Hyperboost Pro Jadi Teknologi Utama
Teknologi yang paling menonjol pada sepatu ini adalah Hyperboost Pro foam. Material tersebut dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari teknologi midsole sepatu balap kelas elite adidas, kemudian disesuaikan untuk kebutuhan penggunaan yang lebih luas.
Dengan karakter tersebut, Hyperboost Edge tidak hanya ditujukan untuk sesi lari cepat. Sepatu ini juga dirancang untuk mendukung latihan rutin hingga aktivitas lari dengan jarak tempuh lebih panjang.
Bagian midsole memiliki tinggi sekitar 45 mm di area tumit, dengan perbedaan tinggi sekitar 6 mm antara tumit dan bagian depan kaki. Konfigurasi tersebut dirancang untuk memberikan bantalan sekaligus membantu menghasilkan sensasi dorongan ketika kaki bergerak.
Diuji Bersama Puluhan Pelari
Pengembangan Hyperboost Pro tidak hanya dilakukan melalui pengujian internal adidas. Teknologi tersebut juga melalui riset konsumen yang melibatkan German Sport University Cologne.
Dalam pengujian yang melibatkan 60 pelari, Hyperboost Edge dibandingkan dengan sepatu yang biasa digunakan oleh para peserta. Hasilnya menunjukkan sejumlah respons positif dari peserta terhadap kenyamanan dan pengembalian energi.
Sebanyak 73 persen pelari lebih menyukai kemampuan sepatu dalam mengembalikan energi. Sementara itu, 77 persen peserta merasakan bantalan yang lebih lembut.
Lebih dari separuh peserta juga memilih Hyperboost Edge karena kenyamanannya. Mayoritas peserta memberikan penilaian positif terhadap pengalaman berlari secara keseluruhan.
Hasil pengujian tersebut menjadi salah satu dasar adidas dalam memperkenalkan Hyperboost Pro sebagai teknologi baru untuk lini sepatu performanya.
Upper PRIMEWEAVE Bikin Kaki Tetap Nyaman
Performa Hyperboost Edge tidak hanya mengandalkan bagian midsole. adidas juga menggunakan PRIMEWEAVE pada bagian upper untuk memberikan rasa ringan dan nyaman ketika sepatu digunakan.
Material upper dirancang agar dapat memberikan dukungan yang sesuai terhadap pergerakan kaki. Desainnya dibuat minimalis dengan sejumlah detail yang memberikan kesan modern dan futuristis.
Pada bagian tumit, terdapat heel pods terintegrasi yang berfungsi memberikan bantalan tambahan sekaligus membantu menjaga stabilitas kaki.
Kombinasi tersebut membuat konstruksi bagian atas Hyperboost Edge tidak hanya berorientasi pada tampilan, tetapi juga mendukung kenyamanan selama sepatu digunakan.
LIGHTTRAXION Hadirkan Traksi di Berbagai Permukaan
Bagian outsole Hyperboost Edge menggunakan teknologi LIGHTTRAXION. Sol luar ini dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari teknologi yang digunakan pada sepatu balap adidas.
Strukturnya dibuat ringan dan membentang dari area tumit hingga bagian depan kaki. Tujuannya adalah membantu memberikan cengkeraman dan stabilitas ketika pelari melakukan langkah demi langkah.
Penggunaan LIGHTTRAXION juga membawa karakter performa lini adidas Adizero ke dalam sepatu yang ditujukan untuk penggunaan lebih luas. Dengan demikian, pelari tetap mendapatkan traksi tanpa harus menggunakan outsole dengan konstruksi yang terlalu berat.
Desain Futuristis dengan Ciri Khas Baru
Selain teknologi, Hyperboost Edge menawarkan tampilan yang cukup berbeda dari sejumlah sepatu lari adidas sebelumnya.
Midsole dibuat tebal dengan bentuk yang terlihat mengembang. Desain tersebut mengambil inspirasi dari karakter industrial sekaligus menonjolkan teknologi Hyperboost Pro yang menjadi pusat performa sepatu.
Hal menarik lainnya adalah penempatan logo Three Stripes yang dibuat bertumpuk pada bagian midsole. Penempatan tersebut menjadi salah satu detail baru yang memperkuat identitas desain Hyperboost Edge.
Sementara itu, upper dibuat lebih bersih dengan detail minimalis, lubang tali yang tersembunyi, serta sejumlah elemen ringan yang ditempel langsung pada konstruksi sepatu.
Harga adidas Hyperboost Edge
Untuk rilisan perdananya, adidas Hyperboost Edge dibanderol sekitar US$200 atau sekitar Rp3,6 juta jika menggunakan asumsi kurs yang disebutkan dalam informasi peluncurannya.
Varian pertama hadir dalam pilihan warna merah. adidas juga menyiapkan pilihan warna lain untuk peluncuran berikutnya.
Ketersediaan produk dapat diperiksa melalui kanal resmi adidas, termasuk toko resmi dan situs adidas. Harga di Indonesia dapat berbeda karena faktor kurs, pajak, distribusi, serta kebijakan harga lokal.
Cocok untuk Pelari Seperti Apa?
Dengan konsep non-plated dan fokus pada kombinasi bantalan, respons energi, serta bobot ringan, Hyperboost Edge menyasar pelari yang menginginkan satu sepatu untuk berbagai kebutuhan latihan.
Sepatu ini dapat menjadi pilihan bagi pelari yang mencari sensasi empuk tetapi tetap responsif tanpa menggunakan pelat. Namun, karakter sepatu tetap bersifat subjektif karena kenyamanan dan kecocokan sangat bergantung pada bentuk kaki, gaya berlari, serta preferensi masing-masing pelari.
Kesimpulan
adidas Hyperboost Edge hadir sebagai alternatif baru di tengah tren sepatu lari berteknologi tinggi. Alih-alih mengandalkan pelat, adidas menawarkan kombinasi Hyperboost Pro, PRIMEWEAVE, dan LIGHTTRAXION untuk menghasilkan sepatu yang ringan, empuk, dan responsif.
Dengan bobot sekitar 255 gram, desain futuristis, serta teknologi yang dikembangkan melalui pengujian dan riset pelari, Hyperboost Edge menarik perhatian terutama bagi mereka yang menginginkan sepatu lari serbaguna.
Kehadiran sepatu ini juga menunjukkan bahwa inovasi sepatu lari tidak selalu harus bergantung pada penggunaan pelat. Teknologi foam dan konstruksi sepatu yang tepat dapat menjadi pendekatan lain untuk menghadirkan kenyamanan dan respons energi bagi pelari.(Rhz2797)

