-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ratusan Warga Berebut Air Siraman Pusaka di Keraton Kacirebonan, Dipercaya Membawa Berkah

Agustus 26, 2026 Last Updated 2026-08-26T07:33:02Z

Ratusan warga dari berbagai daerah memadati Keraton Kacirebonan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026). Mereka rela menunggu sejak pagi demi mendapatkan air yang digunakan dalam prosesi pencucian pusaka pada tradisi Siraman Panjang.


Air dari prosesi tersebut menjadi perhatian masyarakat karena sebagian warga meyakini memiliki nilai keberkahan. Antusiasme tinggi terlihat ketika air mulai dibagikan kepada warga yang telah membawa berbagai wadah dari rumah.


Warga Rela Menunggu Berjam-jam


Sejak pagi, warga telah berkumpul di sekitar lokasi pelaksanaan tradisi tahunan tersebut. Saat pembagian air dimulai, ratusan orang langsung mendekat untuk mendapatkan bagian.


Kepadatan massa sempat terjadi akibat tingginya antusiasme masyarakat. Petugas bersama pihak Keraton Kacirebonan berupaya mengatur jalannya pembagian agar situasi tetap terkendali dan seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan tertib.


Salah seorang warga asal Indramayu, Karmita, mengaku sengaja datang lebih awal demi mengikuti tradisi tersebut. Ia bersyukur akhirnya berhasil mendapatkan air dari prosesi Siraman Panjang yang menurut keyakinannya memiliki nilai karomah.


Tradisi Tahunan Menjelang Malam Panjang Jimat


Siraman Panjang merupakan salah satu rangkaian tradisi budaya yang rutin digelar Keraton Kacirebonan setiap tahun menjelang malam panjang jimat.


Dalam prosesi tersebut, tujuh piring jimat yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Gunung Jati menjalani ritual pencucian menggunakan air yang telah dipersiapkan dengan rangkaian bunga.


Prosesi membawa piring-piring jimat dilakukan oleh keluarga Keraton Kacirebonan. Piring pertama dibawa oleh Putra Mahkota Keraton Kacirebonan, Elang Raja Muhamad Kusuma Natadiningrat, sementara enam lainnya dibawa oleh anggota keluarga keraton.


Sarat Makna Spiritual dan Kebersamaan


Sultan Keraton Kacirebonan IX, Pangeran Raja Abdulgani Natadiningrat, menjelaskan bahwa tradisi Siraman Panjang memiliki pesan dan makna spiritual bagi masyarakat yang mengikutinya.


Menurutnya, nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus berupaya menjadi pribadi yang saleh dan menjalani kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan.


Tradisi ini pun tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya dan sejarah yang telah berlangsung secara turun-temurun.


Warisan Budaya yang Tetap Dijaga


Meski pembagian air sempat diwarnai kepadatan karena tingginya antusiasme warga, seluruh rangkaian Siraman Panjang tetap berlangsung sebagai bagian dari tradisi yang terus dilestarikan oleh Keraton Kacirebonan.


Bagi masyarakat yang hadir, tradisi tersebut menjadi momentum untuk mengenang sejarah sekaligus memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan. Antusiasme warga dari berbagai daerah juga menunjukkan bahwa tradisi budaya lokal masih memiliki tempat tersendiri di tengah kehidupan masyarakat modern.


Siraman Panjang di Keraton Kacirebonan pun kembali menjadi salah satu peristiwa budaya yang menarik perhatian, sekaligus memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat dengan tradisi dan warisan leluhur yang terus dijaga hingga kini.(Rhz2797)