Bataranews– Sebuah video yang menampilkan seorang santri cilik mengoreksi bacaan ayat Al-Qur'an yang disampaikan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid tengah menjadi perhatian di media sosial.
Dalam video tersebut, santri cilik itu menyoroti sejumlah bagian bacaan Surah Quraisy serta penjelasan Nusron Wahid yang mengaitkan kandungan ayat dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan ketahanan pangan.
Koreksi yang disampaikan pun tidak hanya berkaitan dengan pelafalan ayat, tetapi juga mengenai pemaknaan salah satu frasa dalam Surah Quraisy.
Santri Cilik Soroti Bacaan Surah Quraisy
Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah ketika Nusron Wahid membaca potongan ayat Surah Quraisy.
Dalam video yang beredar, Nusron disebut melafalkan potongan ayat dengan bunyi, "Li ilafi li quraisyin".
Santri cilik tersebut kemudian memberikan koreksi dan menyebut bacaan yang seharusnya adalah "Li iilafi quraisyi".
Koreksi berikutnya muncul pada bagian ayat yang berbunyi tentang Allah SWT yang memberikan makanan ketika manusia berada dalam kelaparan.
Menurut santri tersebut, terdapat perbedaan pada pelafalan kata dalam bacaan yang disampaikan Nusron Wahid.
Video koreksi itu kemudian menyebar luas dan memicu berbagai tanggapan dari warganet.
Dikaitkan dengan Program Makan Bergizi Gratis
Selain persoalan bacaan, perhatian juga tertuju pada penjelasan Nusron Wahid mengenai makna Surah Quraisy.
Dalam penjelasannya, Nusron menghubungkan potongan ayat "Alladzi ath'amahum min ju'" dengan program Makan Bergizi Gratis dan ketahanan pangan.
Ia menilai pesan mengenai pemberian makanan kepada mereka yang mengalami kelaparan memiliki relevansi dengan upaya pemerintah dalam menjalankan program MBG.
Nusron kemudian menyebut program penyediaan makanan bergizi dan ketahanan pangan memiliki keterkaitan dengan pesan untuk mencegah masyarakat mengalami kelaparan.
Santri Cilik Kritik Pemaknaan Frasa Ayat
Namun, penjelasan tersebut kembali mendapat koreksi dari santri cilik dalam video yang viral.
Ia menjelaskan bahwa frasa "Alladzi ath'amahum" dalam susunan ayat tersebut merupakan sifat yang menerangkan Tuhan yang sebelumnya disebut dalam ayat.
Dengan demikian, menurut penjelasan santri tersebut, makna frasa itu merujuk kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang memberi makanan kepada manusia ketika mengalami kelaparan.
Santri cilik tersebut menilai frasa tersebut tidak dapat secara langsung dimaknai sebagai pihak atau manusia yang memberikan program bantuan makanan.
Kritiknya disampaikan dengan nada tegas sambil mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam membaca dan menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an.
Ingatkan agar Tidak Sembarangan Memaknai Ayat
Dalam bagian lain video, santri tersebut mempertanyakan konsekuensi pemaknaan apabila frasa dalam ayat tersebut diarahkan kepada manusia yang memberikan makanan.
Menurutnya, pemahaman terhadap struktur dan konteks ayat perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan dalam menyampaikan makna Al-Qur'an.
Santri cilik lainnya juga turut memberikan pesan agar ayat suci tidak disampaikan atau ditafsirkan secara sembarangan.
Ia membedakan antara aturan buatan manusia yang dapat berubah dan diperdebatkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang harus disampaikan secara hati-hati sesuai kaidah dan pemahamannya.
Video tersebut pun terus menjadi perbincangan publik, terutama karena koreksi disampaikan secara lugas oleh seorang santri cilik kepada seorang pejabat negara.
Peristiwa ini sekaligus memunculkan diskusi di media sosial mengenai pentingnya ketelitian dalam membaca, memahami, serta menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan persoalan dan kebijakan yang berkembang di tengah masyarakat.

