Menteri Luar
Negeri RI Retno Marsudi mengajak negara-negara anggota ASEAN bersatu 'melawan'
negara-negara bersenjata nuklir.
Retno
menyampaikan hal tersebut saat membuka pertemuan Komite Eksekutif Komisi
Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (Southeast Asia Nuclear Weapon-Free
Zone/SEANWFZ) di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, hari ini Selasa (11/7).
Retno
menegaskan ASEAN harus bisa mendorong non-proliferasi senjata nuklir yang saat
ini terancam akibat sejumlah konflik yang pecah di beberapa kawasan.
"Ancaman
penggunaan senjata nuklir (meningkat) dalam sejarah dan kita telah diberi
peringatan langsung soal penggunaan senjata nuklir. Kita juga melihat beberapa
doktrin militer negara lain masih menggunakan senjata nuklir, termasuk di
kawasan kita," kata Retno di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa
(11/7).
"Dengan
senjata nuklir, kita hanya selangkah dari kesalahpahaman yang dapat memicu
bencana global bahkan kiamat. Kita (ASEAN) harus datang sebagai front persatuan
menghadapi negara bersenjata nuklir ini. Hanya dengan begitu kita bisa menempa
jalan yang lebih jelas menuju wilayah yang bebas dari senjata nuklir,"
papar Retno menambahkan.
Retno
menuturkan risiko penggunaan senjata nuklir belakangan meningkat drastis jika
dibandingkan dengan di masa lalu.
Dia berujar
ancaman proliferasi senjata nuklir itu bahkan terlihat di kawasan Asia Tenggara
sendiri.
"Kita
tentu mengetahui bahwa kita tidak bisa benar-benar aman dari senjata nuklir di
kawasan kita," ujar Retno.
"Tak ada
senjata yang lebih kuat dan merusak dibandingkan senjata nuklir. Dan dengan
senjata nuklir kita hanya satu kesalahan perhitungan dari kiamat dan bencana
global," lanjut dia.
Dalam kesempatan
itu, Retno juga menekankan bahwa perdamaian dan stabilitas merupakan prioritas
ASEAN.
Menurutnya,
merupakan tugas ASEAN untuk untuk membawa kawasan ke dalam "Epicentrum of
Growth".
Retno juga
berujar ASEAN sudah berupaya melaksanakan tugas tersebut melalui Traktat
SEANWFZ. Kendati begitu, 25 tahun sejak disepakatinya traktat pada 1995, belum
ada satu pun negara bersenjata nuklir yang ikut menandatangani.
"Karenanya,
kita harus menjaga Asia Tenggara sebagai kawasan bebas senjata nuklir,"
ucap dia.
Indonesia
menjadi tuan rumah pertemuan ASEAN Foreign Ministers' Meeting/Post Ministerial
Conference (AMM/PMC) pada 11-14 Juli di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat.
Sejumlah
menteri luar negeri hadir di AMM mulai menlu anggota ASEAN hingga negara lain
seperti Amerika Serikat, Rusia, China, hingga Korea Selatan.
Pada hari
pertama ini, bakal ada tiga pertemuan besar yang dihelat dalam AMM/PMC.
Pertama, yaitu
SEANWFZ. Kedua, pertemuan antarmuka antara ASEAN Intergovernmental Commission
on Human Rights (AICHR) dan Pertemuan Pejabat Senior ASEAN tentang Kejahatan
Transnasional (SOMTC). Dan ketiga, pertemuan ke-56 AMM dalam format plenary
session.
Pertemuan hari pertama ini diikuti oleh seluruh anggota ASEAN, kecuali Myanmar. Pertemuan ini juga diikuti oleh Timor Leste, pertemuan perdana negara itu sejak bergabung pada November 2022 lalu.[SB]

