Bataranews – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga dengan mengamankan impor minyak mentah dari Rusia.
Komitmen impor mencapai 150 juta barel crude oil ini akan direalisasikan secara bertahap hingga akhir tahun 2026.
Skema Impor Masih Dimatangkan
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan, saat ini pemerintah tengah menyusun mekanisme pelaksanaan impor tersebut.
Terdapat dua opsi utama:
Melalui BUMN
Melalui Badan Layanan Umum (BLU)
Keduanya masih dikaji karena memiliki konsekuensi berbeda, terutama terkait:
Skema pembiayaan
Proses pengadaan
Kontrak dengan pihak lain
Jika melalui BUMN, prosesnya harus melalui tender, sementara kerja sama ini berbasis government to government (G2G).
Harga Ikuti Pasar Global
Terkait harga, pemerintah menegaskan akan mengikuti mekanisme pasar internasional.
Meski ada peluang diskon dari Rusia, hal tersebut tidak bisa dipastikan karena sangat bergantung pada dinamika pasar energi global.
Eksekusi Dimulai April 2026
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pengiriman minyak mentah diperkirakan mulai berjalan pada April 2026.
Selain crude oil, pemerintah juga masih menegosiasikan impor LPG dari Rusia yang saat ini sudah mendekati tahap finalisasi.
Indonesia Masih Defisit Minyak
Langkah impor ini diambil karena Indonesia masih mengalami ketimpangan antara produksi dan konsumsi energi:
Konsumsi BBM nasional: ± 1,6 juta barel/hari
Produksi domestik: ± 600 ribu barel/hari
Artinya, kebutuhan dalam negeri belum bisa dipenuhi sepenuhnya dari produksi sendiri.
Kesimpulan
Kerja sama impor dengan Rusia menjadi strategi pemerintah untuk:
Menjaga stabilitas pasokan energi
Mengantisipasi gejolak global
Menjamin kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi
Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada skema pelaksanaan, harga global, dan kemampuan distribusi dalam negeri.
