Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Gambaran Prabowo Jika Jadi Presiden,Ini Prediksi Hubungan Indonesia dengan Negara-negara Lain

Februari 18, 2024 Last Updated 2024-02-18T08:10:27Z


Jika Prabowo Subianto resmi menjadi Presiden Indonesia, ini gambaran hubungan Indonesia dengan negara-negara lain.


Simak prediksi hubungan Indonesia dengan negara lain, seperti persaingan Amerika dan Tiongkok, ASEAN, Uni Eropa, dan lain-lain.


Prabowo Subianto berada di jalur untuk menjadi presiden ke-8 Indonesia setelah unggul jauh di quick count (hitung cepat) berbagai lembaga survei pemilu 2024.


Hingga Sabtu (17/2/2024), calon presiden nomor urut 02 ini mencatatkan nyaris 60 persen suara dengan penghitungan sampel yang sudah mencapai di atas 90 persen.


Jika nantinya resmi terpilih sebagai presiden, serangkaian tugas akan diemban pria berusia 72 tahun ini, seperti menjalin hubungan Indonesia dengan negara-negara lain termasuk Amerika Serikat (AS) dan China.


Lalu, akan seperti apa relasi internasional Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo? Berikut analisis dari kantor berita AFP.


1. Posisi Indonesia di persaingan AS-China


Prabowo sudah menyatakan komitmennya terhadap kebijakan non-blok luar negeri yang dipegang teguh Indonesia sejak lama, sembari masih menerima investasi besar dari Beijing dan mempertahankan hubungan dengan Washington.


Menurut pakar yang dihubungi AFP, mantan jenderal Kopassus ini diperkirakan akan berusaha membahagiakan AS dan China sekaligus membangun kekuatan militer Indonesia.


“Prabowo harus menunjukkan bahwa dia bisa mempraktikkan perdagangan yang bebas dan adil,” kata Teuku Rezasyah, profesor di Universitas Padjadjaran.


“Dia memandang China sebagai mitra strategis, tetapi dia berpendidikan di Barat. Dia akan lebih condong ke Barat,” ujar Yoes Kenawas, peneliti di Universitas Katolik Atma Jaya.


Prabowo sempat masuk daftar hitam visa AS atas dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di bawah pemerintahan Soeharto pada akhir 1990-an, tetapi ketika menjabat menteri pertahanan pernah diundang mantan Presiden AS Donald Trump ke Washington.


Kini, dengan Trump maju lagi ke pemilihan presiden atau pilpres AS yang digelar pada November 2024, hubungan keduanya dapat semakin hangat.


“Kalau Trump menang, Prabowo mungkin akan tertarik menjalin koneksi dengannya,” ucap Adrian Vickers, profesor di Universitas Sydney.


2. Hubungan Indonesia di kawasan ASEAN


Sebagai ketua ASEAN tahun lalu, Indonesia mencoba—tetapi gagal—merundingkan terobosan dengan para pemimpin junta Myanmar, yang dilarang menghadiri KTT blok ini sejak kudeta 2021.


Persoalan ini nantinya akan menjadi tugas Prabowo di tengah perbedaan pendapat negara-negara ASEAN untuk menangani kudeta Myanmar, juga sengketa Laut China Selatan yang semakin tegas disikapi oleh Beijing.


“Untuk ASEAN, saya yakin akan berjalan seperti biasa,” menurut Rezasyah.


Namun, beberapa pakar khawatir fokus Prabowo ke pembangunan militer Indonesia akan dipandang negatif di kawasan.


“Saya khawatir ini akan membuat negara-negara tetangga kita khawatir mengenai posisi Indonesia terhadap ASEAN dan Asia-Pasifik,” lanjut Kenawas.


3. Relasi Indonesia-Australia


Salah satu unggahan pertama Prabowo di media sosial setelah pemungutan suara ditutup adalah foto dirinya berbincang dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese melalui telepon.


Para analis memperkirakan, dia akan menjalin hubungan positif dengan Canberra.


Australia sendiri berupaya meningkatkan hubungan dengan Indonesia untuk melawan China dan meningkatkan perdagangan.


Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong—sebelumnya meminta Canberra lebih menekankan hubungan dagangnya dengan Jakarta—mengatakan, pemerintahnya berharap dapat bekerja sama dengan siapa pun yang memenangi pemilu Indonesia 2024.


Akan tetapi, Indonesia adalah salah satu dari beberapa negara Asia yang prihatin dengan pakta keamanan AUKUS (Australia, Inggris, dan Amerika Serikat), sehingga seperti apa hubungan RI dengan "Negeri Kanguru" nantinya akan patut dinantikan.


4. Bagaimana hubungan dengan Uni Eropa


Prabowo pernah mengecam Uni Eropa atas pembatasan produk-produk terkait deforestasi, menuduh blok beranggotakan 27 negara itu menerapkan standar ganda dan mempertanyakan relevansinya dengan hubungan global.


“Seperti Pak Hassan Wirajuda (Menteri Luar Negeri Indonesia 2001-2009) katakan, there's a shift in the world (ada pergeseran di dunia)," katanya saat berpidato pada November 2023. “Sekarang kami (Indonesia) tak begitu butuh lagi Uni Eropa.”


Di sisi lain, para analis merasa Eropa masih berpersepsi negatif tentang catatan HAM Prabowo setelah dibebastugaskan dari militer karena tuduhan penculikan aktivis pada 1998.


“Akan sangat sulit bagi Prabowo untuk meyakinkan dunia bahwa ia mampu bekerja dengan prinsip. Dia perlu memiliki tim kuat dan ramah terhadap Eropa,” urai Rezasyah.


5. Akankah ada usul perdamaian Ukraina-Rusia lagi?


Pada pertengahan 2023, usul Prabowo untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina ditolak oleh Kyiv, bahkan Menteri Pertahanan Ukraina saat itu Oleksii Reznikov menyebutnya "aneh".


Saat berbicara di KTT pertahanan Shangri-La Dialogue, Singapura, Prabowo mengusulkan penghentian permusuhan segera, gencatan senjata pada posisi saat itu, dan zona demiliterisasi yang akan dijamin oleh pengamat serta pasukan penjaga perdamaian PBB.


Prabowo juga menyarankan referendum di wilayah sengketa yang diselenggarakan oleh PBB.


Kyiv langsung menolaknya dan menyebutnya sebagai rencana Rusia. Uni Eropa juga mengkritik usul Prabowo.


"Kami tidak membutuhkan mediator ini datang kepada kami (dengan) rencana aneh ini," kata Reznikov kala itu, dikutip dari kantor berita AFP.


Presiden Joko Widodo pada pertengahan 2022 mengunjungi Ukraina dan Rusia untuk mencoba menengahi perdamaian. Akankah Prabowo ketika menjadi orang nomor satu di Indonesia nanti juga akan melakukan hal sama?

×