Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kisah Kartini, Pahlawan Emansipasi Dinikahi Duda 7 Anak Wafat Usai Melahirkan

April 23, 2024 Last Updated 2024-04-23T15:11:50Z


Pasti sudah mengenal dengan salah satu pahlawan wanita kebanggaan Indonesia, R.A Kartini. Tetapi, pernah kah Bunda mendengar sisi lain bagaimana kisah hidupnya? 


R.A Kartini merupakan salah satu pahlawan wanita pejuang emansipasi yang menyuarakan kesetaraan gender. Kartini dikenal dan dihormati berkat tulisan-tulisannya dalam surat yang ia kirimkan ke sahabatnya. Tulisan ini kemudian dikumpulkan dalam suatu buku yang dipelajari dan dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, Kartini juga mendirikan sekolah khusus siswa perempuan bernama Sekolah Kartini.


Nama R.A Kartini harum berkat perjuangannya yang gigih dalam memperjuangkan wanita Indonesia mendapatkan kesetaraan gender, memberikan hak yang sama pada wanita di setiap lapisan sosial, dan mengusahakan agar wanita Indonesia mendapat pendidikan yang layak.


Berkaca dari perjuangannya yang sangat berjasa pada kemajuan perempuan Indonesia, sudah sepantasnya kita mengenang kisah hidupnya untuk menjaga semangat perjuangan itu.


Keluarga R.A Kartini


Berdasarkan buku R.A Kartini karya Imron Rosyadi, diceritakan bahwa Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat merupakan anak dari Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sedangkan sang Bunda adalah kaum priyayi bernama M.A Ngasirah.


Pada masa Kartini tumbuh berkembang, terdapat aturan daerah yang mengharuskan pria bangsawan dari keluarga ningrat untuk menikah dengan perempuan dari keluarga yang memiliki kedudukan setara. Kemudian, pada tahun 187, ayah Kartini menikah lagi dengan keturunan Raja Madura, Raden Ayu Muryam. Sang Bunda pun dimadu dan menjadi istri pertama.


Setelah pernikahan kedua sang ayah, Kartini memiliki adik tiri, Bunda. Adiknya bernama Roekmini dan Kardinah. Pada awalnya Kartini tidak dekat dengan adik-adiknya. Namun, mereka mulai menjalin kedekatan antar saudara setelah masa pingitan Kartini selesai di usia 16 tahun.


Di antara kedua adiknya, Roekmini adalah adik yang selalu mendampingi Kartini kemana pun ia pergi. Bahkan, saat Kartini mendapatkan beasiswa untuk bersekolah ke Belanda, Roekmini juga berhasil mendapatkannya. Sayangnya beasiswa ini harus dibatalkan karena banyak hasutan dari Kolonial Belanda.


Kegagalannya mengenyam pendidikan ke Belanda tidak menyurutkan semangat dan tekad Kartini. Pada 1903, Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan di tanah kelahirannya, Jepara.


Pengaruh dari ayahnya yang seorang bupati membuat Kartini mampu menjalankan sekolah ini tanpa khawatir intervensi Belanda. Namun, baru sebulan Kartini meniti kariernya sebagai guru, ayahnya menerima surat lamaran dari Bupati Rembang Djojo Adiningrat untuk Kartini.


Bagai disambar petir, Kartini muda yang memiliki semangat membara harus menekan mimpinya. Ironisnya lagi, seseorang yang melamar kartini merupakan seorang pria yang memiliki tujuh orang anak dan dua istri.


Istri pertama dari Bupati Rembang ini merupakan seorang Raden Ayu, dan sudah tutup usia. Sedangkan dua istri lainnya dari kalangan priyayi. Untuk itu, sang Bupati ingin mempersunting Kartini untuk menggantikan posisi istri pertamanya.


Hati Kartini berkecamuk. Namun, melihat sang ayah yang sudah sakit-sakitan membuatnya berpikir bahwa pernikahan mungkin obat yang ampuh. Kartini pun menurut, dan memutuskan untuk menerima lamaran laki-laki itu dengan hati yang hancur.


Dalam sebuah surat yang ia tulis pada 10 dan 14 Juli 1903, Kartini mengungkapkan perasaan yang ia alami kala dipersunting Bupati Rembang. Kartini merasa bahwa kini ia tak lagi memiliki mahkota.


"Saya (kini) adalah tunangan Bupati Rembang, seorang duda dengan tujuh anak dan dua istri (selir). Mahkota saya sudah lenyap dari dahi saya. Sekarang saya tidak lebih sedikit pun dari sisanya," tulis Kartini.


Lebih lanjut, Kartini mengungkapkan bahwa dirinya kini hanyalah seperti ribuan perempuan lain yang hendak ia tolong. Terjebak dalam pernikahan dini, tak berdaya. "Saya seperti ribuan perempuan lainnya yang hendak saya tolong, tetapi yang (ternyata) jumlahnya hanya saya tambah saja," sambungnya.


Hati Kartini hancur karena selama masa perjuangannya, Kartini pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak akan pernah menikah meski harus bekerja serendah-rendahnya. Kartini menjelaskan bahwa pernikahan tak akan memberikannya kebebasan untuk menjalankan hidup sesuai kehendaknya.


Kehidupan R.A Kartini setelah menikah


Setelah menerima lamaran Bupati Rembang Djojo Adiningrat dan bertunangan, Kartini pun melangkah ke jenjang selanjutnya. Kartini dan Djojo Adiningrat melangsungkan pernikahan pada 8 November 1903. Prosesi lamaran hingga pernikahan ini diceritakan Kartini pada surat yang ia tulis, Bunda.


Kartini menjelaskan bahwa proses lamaran terjadi secara singkat, dan proses pernikahan dilaksanakan secara sederhana, Bunda. Kartini bercerita bahwa dirinya hanya memakai untaian bunga melati tanpa baju pengantin.


Kartini juga mengajukan syarat bahwa saat upacara pernikahan ia tidak mau berlutut dan mencium kaki suaminya. Hal ini sebagai bukti perjuangan emansipasi Kartini kepada perempuan Indonesia.


Selain persyaratan tadi, Kartini juga mengajukan dua persyaratan yang harus dipenuhi sebelum ia menerima lamaran yang diajukan. Pertama, Kartini melarang sang suami untuk menghalangi cita-citanya untuk membuka sekolah. Kedua, Kartini harus tetap diperbolehkan mengajar sekolah seperti yang ia lakukan di Jepara. 


Djojo Adiningrat pun menyetujui persyaratan itu. Ia memenuhi semua syarat yang diajukan Kartini dan memperbolehkan Kartini untuk tetap berjuang pada emansipasi wanita. Setelah menikah, Kartini dibawa sang bupati ke Rembang. Di sana, Kartini berkumpul dengan dua istri lainnya dan anak-anak tirinya.


Masa kehidupan di Rembang merupakan masa kemunduran Kartini, Bunda. Dalam surat yang ia tulis, Kartini tak lagi lantang menggaungkan semangat emansipasi. Isi suratnya kebanyakan hanya berisi pujian pada sang suami dan bagaimana kegembiraan Kartini saat mengurus anak tirinya.


Akhir hidup R.A Kartini


Pada usianya yang 25 tahun, Kartini hamil dan menantikan kelahiran Si Kecil. Ia sangat senang dan tidak sabar menantikan kehadiran anak pertamanya. 


Kartini yang sedang hamil tua masih sempat menuliskan surat-surat, lho, Bunda. Ia menjelaskan perasaan bahagianya dan bagaimana ia sudah menyiapkan sudut di ruangan untuk Si Kecil. Kartini juga telah menyiapkan tempat tidur bayinya saat ia mengajar.


Penantian Kartini akan segera berakhir. Pada 13 September 1904, Kartini melahirkan putra pertamanya dengan selamat. Persalinannya berjalan dengan baik. Hingga, pada 17 September, dr. van Ravesteyn datang untuk memeriksakan keadaan Kartini. Berdasarkan pemeriksaannya, Kartini dalam keadaan baik dan tidak mengkhawatirkan.


Tak lama setelah sang dokter meninggalkan Kartini, tiba-tiba Kartini merasakan sakit yang luar biasa dari dalam perutnya. dr.Ravesteyn pun bergegas datang kembali. Ia menjelaskan bahwa Kartini mengalami perubahan kesehatan yang sangat drastis dan mendadak.


Setelah berusaha semaksimal mungkin, setengah jam kemudian dokter tidak dapat menyelamatkan nyawa Kartini. Kartini menghembuskan nafas terakhir tepat 4 hari setelah melahirkan putra pertamanya.


Kematian Kartini yang mendadak sempat menimbulkan kecurigaan dan menjadi buah bibir di masyarakat. Banyak yang mengira Kartini telah diracuni, dibunuh dengan sengaja, bahkan diguna-guna. Namun, pihak keluarga tidak ingin berprasangka buruk dan menyatakan bahwa Kartini meninggal karena sakit setelah melahirkan anaknya. 


Itulah kisah hidup sang pejuang emansipasi, R.A Kartini. Semangatnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan kesejahteraan wanita membuatnya patut dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Selamat Hari Kartini, bagi seluruh kartini-kartini Indonesia. 

×