Kasus kematian seorang aktivis buruh, Ermanto Usman (65), menyita perhatian publik setelah ia ditemukan tewas di rumahnya di kawasan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi pada 2 Maret 2026.
Sebelum meninggal dunia, Ermanto diketahui aktif menyuarakan kritik terkait dugaan kasus korupsi di sektor pelabuhan. Ia merupakan pensiunan dari Jakarta International Container Terminal (JICT), anak perusahaan Pelindo, sekaligus dikenal sebagai aktivis buruh.
Dikenal Vokal Sejak Masih Bekerja
Menurut kakak kandungnya, Dalsaf Usman, Ermanto dikenal sangat vokal dalam memperjuangkan aspirasi pekerja. Bahkan saat masih bekerja di JICT, ia sempat dua kali dipecat karena kritiknya terhadap kebijakan perusahaan.
Namun keputusan pemecatan tersebut akhirnya dibatalkan oleh Menteri Perhubungan saat itu.
“Dia dipecat karena memang mengkritik kebijakan yang tidak sesuai prosedur,” ujar Dalsaf.
Semasa aktif bekerja, Ermanto pernah menjabat sebagai Manager HRD JICT dan juga menjadi Ketua Persatuan Pensiunan JICT.
Aktif Mengkritik Dugaan Korupsi
Setelah pensiun sekitar sembilan tahun lalu, Ermanto tetap aktif menyuarakan berbagai isu pekerja dan dugaan korupsi di sektor pelabuhan.
Putranya, Fiandy A Putra (33), mengatakan ayahnya belakangan sering tampil dalam podcast untuk membahas isu-isu tersebut.
“Bapak saya mencoba membuka kebenaran dan memperjuangkan nasib orang-orang di lapangan yang kesulitan,” ujarnya.
Salah satu podcast yang menampilkan Ermanto adalah program Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang tayang pada 15 Desember 2025. Dalam diskusi tersebut, ia menyinggung perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan Hong Kong, Hutchison Port Holdings.
Ditemukan Tewas di Rumah
Ermanto kemudian ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Bekasi. Sementara istrinya, Pasmilawati (60), ditemukan dalam kondisi kritis.
Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menyatakan bahwa sebelumnya Ermanto memang sempat kembali menyuarakan dugaan kasus korupsi di pelabuhan.
Rieke juga menduga kasus tersebut bukan sekadar perampokan.
“Indikasi kuat ini bukan pencurian. Tidak ada barang yang hilang,” ujarnya.
Ia meminta pihak kepolisian melakukan penyelidikan secara mendalam untuk mengungkap kemungkinan motif lain di balik peristiwa tersebut.
Polisi Akui Kendala Penyelidikan
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, mengatakan penyidik menghadapi sejumlah kendala dalam mengungkap kasus ini.
Salah satu kendala utama adalah minimnya barang bukti dan saksi di lokasi kejadian. Selain itu, rumah korban tidak dilengkapi kamera pengawas.
Polisi juga telah memeriksa kamera CCTV di sekitar lingkungan rumah korban, namun belum ditemukan rekaman yang bisa mengidentifikasi pelaku.
Kasus kematian Ermanto hingga kini masih dalam penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian.

