Media Asing Sorot Malaysia yang Disebut Panik karena Kesuksesan Timnas Indonesia
Persaingan Indonesia dan Malaysia tidak hanya terjadi di atas lapangan, tetapi juga dalam kebijakan sepak bola. Kesuksesan Timnas Indonesia di bawah Shin Tae-yong disebut menjadi salah satu pemicu Malaysia mengambil langkah serupa, terutama dalam kebijakan naturalisasi.
Namun, upaya tersebut justru berujung kontroversi setelah terungkapnya dugaan pemalsuan dokumen pemain keturunan oleh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Media Inggris, The Guardian, ikut menyoroti kasus yang kini berbuntut sanksi FIFA.
Kebangkitan Indonesia Disebut Pengaruhi Kebijakan Malaysia
Dalam laporannya, The Guardian menyebut Indonesia berhasil membangun momentum besar dalam satu tahun terakhir. Mulai dari lolos ke 16 besar Piala Asia 2024, tampil sensasional di Piala Asia U23 2024, hingga hampir menembus Piala Dunia 2026 setelah mencapai ronde keempat kualifikasi.
Kemajuan pesat ini dinilai membuat Malaysia merasa tertinggal.
“Dalam setahun terakhir, tidak ada bulan tanpa pemain Belanda menyerahkan paspor ke Kedutaan RI. Indonesia kini tim terkuat di Asia Tenggara dan kebangkitan kilat mereka memengaruhi pemikiran Malaysia,” tulis The Guardian.
Keberhasilan Indonesia dalam memaksimalkan program naturalisasi di bawah kepemimpinan Erick Thohir dinilai mendorong Malaysia untuk mencoba langkah serupa. Namun, hasilnya jauh berbeda.
Kasus Pemalsuan Dokumen Pemain Malaysia Terbongkar
FIFA melalui Komite Disiplin menemukan adanya manipulasi dokumen tempat lahir yang dilakukan FAM terhadap tujuh pemain yang diturunkan Malaysia saat menghadapi Vietnam pada 10 Juni 2025.
Dalam laga itu, Malaysia menang telak 4-0. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama karena muncul laporan mengenai kejanggalan dokumen pemain naturalisasi.
Hasil investigasi FIFA menyatakan dokumen para pemain telah “doctored”, alias diubah, seolah-olah kakek atau nenek mereka berasal dari Malaysia.
Ketujuh pemain tersebut kemudian dijatuhi sanksi larangan bermain selama 12 bulan. Upaya banding FAM pun ditolak oleh FIFA.
Berikut contoh perbedaan data versi dokumen FAM dan dokumen asli:
Gabriel Felipe
Dokumen FAM: Malacca, Malaysia
Dokumen asli: Santa Cruz de la Palma, Spanyol
Facundo Garces
Dokumen FAM: Penang, Malaysia
Dokumen asli: Santa Fé de la Cruz, Argentina
Holgado Gardon
Dokumen FAM: George Town, Malaysia
Dokumen asli: Caseros, Buenos Aires, Argentina
(dan empat nama lainnya sebagaimana dalam data investigasi FIFA)
The Guardian menyebut kasus ini telah dibawa FAM ke CAS (Pengadilan Arbitrase Olahraga), namun argumentasi mereka dinilai lemah.
Pernyataan Resmi FAM Usai Dijatuhi Sanksi
FAM melalui akun Instagram resmi pada 27 September 2025 menyatakan bahwa mereka dan para pemain telah bertindak dengan itikad baik. Mereka menegaskan bahwa dokumen yang diberikan sudah sesuai prosedur dan sebelumnya telah disetujui FIFA.
Dalam pernyataannya, FAM memastikan akan mengajukan banding dan tetap bekerja sama dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga integritas sepak bola nasional Malaysia.
Namun, hingga kini FIFA tetap menyatakan bahwa proses manipulasi dokumen memang terjadi.
Indonesia Melesat, Malaysia Terjerat Kontroversi
Kemajuan pesat Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kontras dengan situasi di Malaysia yang kini terbelit kasus hukum. Media asing pun mulai melihat pola bahwa Malaysia mencoba mengikuti langkah Indonesia, tetapi gagal total dalam eksekusi naturalisasi.
Bagi Indonesia, hal ini semakin menegaskan besarnya dampak reformasi yang dilakukan PSSI dalam pengembangan sepak bola nasional.

