Agustinus Adisucipto atau yang akrab disapa Cip dikenal sebagai Bapak Penerbang Indonesia. Sosoknya bukan hanya perintis dunia penerbangan nasional, tetapi juga pejuang yang mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan Indonesia.
Sejak menempuh pendidikan di MULO, Adisucipto dikenal sangat cerdas. Bahkan pihak sekolah menyarankan agar ia melanjutkan pendidikan ke sekolah kedokteran. Namun, cita-cita Adisucipto justru tertuju pada dunia militer, tepatnya Akademi Militer Breda di Belanda. Keinginan itu sempat ditentang ayahnya karena sulitnya akses bagi pribumi kala itu.
Meski sempat gagal masuk Akademi Militer Breda, Adisucipto tidak menyerah. Ia sempat berkuliah di sekolah kedokteran, namun karena kurang berminat, pendidikannya terhenti. Dari sinilah jalan hidupnya berbelok ketika ia mendapatkan informasi tentang Sekolah Penerbangan dari Prof. Dr. Abdulrachman Saleh.
Dengan kegigihan dan tekad kuat, Adisucipto akhirnya diterima di Sekolah Penerbangan di Bandung. Pendidikan yang seharusnya ditempuh selama tiga tahun berhasil ia selesaikan hanya dalam dua tahun dengan hasil memuaskan. Ia kemudian bertugas sebagai penerbang dengan pangkat Letnan Muda.
Pada masa pendudukan Jepang, aktivitas penerbang dihentikan. Adisucipto kembali ke Salatiga dan sempat bekerja sebagai juru tulis, namun tidak pernah berpihak pada Jepang. Ia tetap mengikuti perkembangan dunia melalui siaran radio gelap dan meyakini bahwa penjajahan Jepang tidak akan berlangsung lama.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Adisucipto aktif dalam pembentukan Jawatan Penerbangan TKR di Yogyakarta. Ia berperan besar memperbaiki pesawat-pesawat peninggalan Jepang di Lapangan Udara Maguwo dan mendidik calon penerbang Indonesia. Dari sinilah lahir pilot-pilot pertama Indonesia, seperti Iswahyudi dan Imam Wiryosaputro.
Pada 15 November 1945, Adisucipto turut memprakarsai berdirinya Sekolah Penerbangan pertama Indonesia, cikal bakal Akademi Angkatan Udara. Dedikasinya membuat ia dijuluki sebagai Bapak Penerbang Indonesia.
Pada tahun 1947, dalam misi kemanusiaan membawa bantuan obat-obatan dari India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh pesawat Belanda. Pesawat tersebut jatuh di kawasan Jatingarang dekat Kali Code, Yogyakarta.
Dalam peristiwa tragis itu, Agustinus Adisucipto gugur bersama Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dan awak lainnya. Ia wafat pada usia 31 tahun, meninggalkan istri dan seorang putra yang masih berusia sembilan bulan.
Gugurnya Agustinus Adisucipto bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Jasanya menjadi fondasi kuat berdirinya TNI Angkatan Udara dan dunia penerbangan nasional.

