Irma Grese: Algojo Nazi yang Dieksekusi di Usia 22 Tahun
Irma Grese dikenal sebagai salah satu penjaga kamp konsentrasi perempuan paling kejam pada era Nazi Jerman. Ia lahir pada 7 Oktober 1923 di Jerman dan menjadi anggota organisasi paramiliter Nazi saat masih sangat muda.
Bergabung dengan SS di Usia Remaja
Grese bergabung dengan sayap perempuan SS (Schutzstaffel) ketika berusia sekitar 19 tahun. Ia ditugaskan sebagai penjaga di kamp konsentrasi perempuan seperti:
Ravensbruck concentration camp
Auschwitz concentration camp
Bergen-Belsen concentration camp
Di kamp-kamp tersebut, Grese dituduh melakukan berbagai tindakan kekerasan terhadap tahanan, termasuk pemukulan, penyiksaan, serta perlakuan tidak manusiawi lainnya. Karena kekejamannya, ia dijuluki “The Hyena of Auschwitz”.
Di Auschwitz, ia bahkan sempat naik pangkat menjadi pengawas senior (Oberaufseherin), sebuah posisi yang memberinya kewenangan besar atas para tahanan perempuan.
Penangkapan dan Pengadilan
Pada April 1945, kamp Bergen-Belsen dibebaskan oleh tentara Inggris. Grese ditangkap dan diadili dalam persidangan kejahatan perang yang dikenal sebagai:
Belsen Trial
Pengadilan ini berlangsung di Lüneburg, Jerman, dan melibatkan sejumlah pejabat serta penjaga kamp konsentrasi lainnya.
Dalam persidangan, saksi-saksi memberikan kesaksian mengenai kekejaman yang dilakukan Grese terhadap para tahanan. Ia dinyatakan bersalah atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Eksekusi di Usia 22 Tahun
Grese dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Eksekusi dilakukan pada 13 Desember 1945 oleh algojo Inggris, menjadikannya salah satu perempuan termuda yang dieksekusi atas kejahatan perang setelah Perang Dunia II.
Ia baru berusia 22 tahun saat hukuman tersebut dijalankan.
Catatan Sejarah
Kisah Irma Grese menjadi salah satu gambaran kelam tentang bagaimana ideologi ekstrem dan sistem totaliter dapat mendorong individu melakukan kekejaman luar biasa, bahkan pada usia yang sangat muda.
Peristiwa ini juga menjadi bagian dari upaya internasional pasca-Perang Dunia II untuk menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan selama rezim Nazi berkuasa di bawah kepemimpinan Adolf Hitler.
Sejarah tentang dirinya sering dijadikan bahan kajian dalam pembahasan mengenai psikologi kekerasan, propaganda, serta tanggung jawab moral dalam situasi perang.

