Bataranews – Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan menyentuh level Rp17.192 per dolar pada Jumat (17/4/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah tren positif pasar saham negara berkembang di Asia yang justru mulai bangkit.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah rupiah kini benar-benar mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah?
Rupiah Melemah di Tengah Optimisme Pasar Asia
Saat mata uang melemah, pasar saham justru menunjukkan tren sebaliknya. Indeks saham negara berkembang di Asia mengalami penguatan seiring meningkatnya optimisme investor terhadap meredanya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski sempat turun, indeks regional tetap mencatat kenaikan mingguan sekitar 3,5% dan bahkan berbalik positif sepanjang April dengan kenaikan signifikan.
Namun, rupiah justru bergerak berlawanan arah dan terus mengalami tekanan sejak awal 2026.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh beberapa faktor utama:
Suku bunga AS tinggi → mendorong arus modal keluar dari negara berkembang
Geopolitik global tidak stabil → terutama konflik Timur Tengah
Capital outflow sejak 2025 → tekanan berkelanjutan pada rupiah
Kondisi fiskal domestik → dinilai belum cukup kuat
“Rupiah menyentuh nilai tukar terendah sepanjang sejarah,” ujarnya.
Meski demikian, pelemahan disebut masih tertahan berkat intervensi Bank Indonesia. Tanpa intervensi tersebut, nilai tukar berpotensi melemah lebih dalam.
Dampak ke Inflasi dan Harga Energi
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi dan barang impor.
Ada dua skenario yang dihadapi pemerintah:
Harga BBM naik → inflasi langsung meningkat
Harga BBM ditahan → beban fiskal membengkak & picu tekanan rupiah
Kondisi ini berisiko memicu inflasi impor (imported inflation) yang berdampak luas ke harga kebutuhan masyarakat.
Saran Ekonom untuk Pemerintah
Menurut Wijayanto Samirin, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan kesehatan fiskal melalui:
Pengelolaan fiskal yang disiplin
Kebijakan pajak yang tidak memberatkan investasi
Penegakan hukum yang transparan
Efisiensi anggaran negara
Program dengan anggaran besar seperti subsidi energi dan belanja strategis juga perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran.
Untuk subsidi BBM, ia menyarankan:
Tetap mempertahankan subsidi untuk kelompok tertentu
Penyesuaian bertahap untuk BBM non-subsidi
Kesimpulan
Pelemahan rupiah ke level Rp17.000 lebih per dolar AS mencerminkan tekanan global yang kuat terhadap ekonomi Indonesia. Kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi penyebab utama, sementara kebijakan pemerintah akan sangat menentukan arah stabilitas ke depan.

