-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Bank Dunia Soroti Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ekonomi Indonesia Dibayangi Risiko Global

Juni 12, 2026 Last Updated 2026-06-12T03:48:42Z



Bataranews– Bank Dunia menyoroti meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan Indonesia di tengah kombinasi gejolak domestik serta memburuknya kondisi ekonomi global.


Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia mencatat nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada awal Juni 2026 akibat meningkatnya ketidakpastian global dan keluarnya arus modal asing dari pasar domestik.


Rupiah Tertekan oleh Dua Guncangan Besar


Bank Dunia menjelaskan tekanan terhadap rupiah terjadi setelah Indonesia menghadapi dua guncangan beruntun pada awal tahun.


Guncangan pertama berasal dari pasar keuangan domestik setelah MSCI mengumumkan peninjauan terhadap status sejumlah saham Indonesia dalam indeks pasar berkembang. Peninjauan tersebut dipicu kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham dan rendahnya porsi saham beredar bebas atau free float.


Kondisi itu memicu aksi jual di pasar saham dan mengurangi minat investor terhadap aset-aset Indonesia.


Konflik Timur Tengah Perburuk Sentimen Pasar


Tekanan semakin besar setelah konflik di Timur Tengah meletus pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak hingga menembus US$100 per barel pada pertengahan Maret.


Kenaikan harga energi global meningkatkan tekanan inflasi dan membuat investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman.


Menurut Bank Dunia, arus keluar investasi portofolio mencapai sekitar US$1,7 miliar atau setara 0,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal pertama 2026.


Biaya Pinjaman Berpotensi Meningkat


Meski sebagian tekanan berhasil diimbangi oleh masuknya dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), nilai tukar rupiah tetap mengalami pelemahan sekitar 6 persen sepanjang tahun hingga Mei 2026.


Bank Dunia memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah maupun sektor swasta.


Tingginya imbal hasil obligasi dan meningkatnya premi risiko dinilai berpotensi memperbesar biaya pinjaman, memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah, serta mempersempit ruang fiskal pemerintah.


Prospek Ekonomi Masih Dibayangi Risiko


Ke depan, Bank Dunia menilai ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko eksternal yang cukup besar.


Gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak dunia maupun jalur pelayaran internasional dapat meningkatkan tekanan inflasi, memperbesar kebutuhan subsidi energi, serta mempersempit ruang fiskal negara.


Dalam skenario yang lebih buruk, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 2027 hingga 2028 berpotensi lebih rendah sekitar 0,2 hingga 0,3 poin persentase dibandingkan proyeksi dasar yang telah disusun Bank Dunia.


Pentingnya Menjaga Kepercayaan Investor


Bank Dunia menegaskan bahwa stabilitas makroekonomi harus tetap menjadi prioritas utama. Selain itu, pemerintah juga didorong untuk memperkuat kepercayaan investor dan mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan daya tahan ekonomi nasional terhadap berbagai gejolak global.


Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia mampu menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian dunia yang masih tinggi.


Kesimpulan


Bank Dunia memperingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan Indonesia masih berpotensi berlanjut akibat kombinasi faktor domestik dan global. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat kepercayaan investor, serta mempercepat reformasi agar ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah gejolak dunia.