-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

DPR Kritik Koperasi Desa Merah Putih, Apa Bedanya dengan Ritel Milik Konglomerat?

Juni 21, 2026 Last Updated 2026-06-21T07:53:00Z



Bataranews– Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mendapat sorotan dari kalangan legislatif. Sejumlah anggota DPR mempertanyakan efektivitas program tersebut dan membandingkannya dengan jaringan ritel modern milik perusahaan besar yang telah lebih dulu menguasai pasar hingga tingkat desa.


Menurut para pengkritik, pemerintah perlu menjelaskan secara rinci apa yang membedakan Kopdes Merah Putih dengan model bisnis ritel milik konglomerat agar tidak sekadar menjadi pesaing baru di pasar yang sama.


DPR Soroti Model Bisnis Kopdes


Dalam berbagai pembahasan, DPR menilai keberadaan Kopdes Merah Putih harus memiliki identitas yang jelas sebagai lembaga ekonomi rakyat. Jika hanya berfungsi sebagai toko atau pusat distribusi barang, maka dikhawatirkan tidak memiliki perbedaan signifikan dengan jaringan minimarket modern yang sudah tersebar luas.


Legislator menekankan bahwa koperasi seharusnya tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperkuat ekonomi anggota dan masyarakat desa.


Perbedaan Mendasar dengan Ritel Konglomerat


Secara konsep, Kopdes Merah Putih memiliki beberapa perbedaan utama dibandingkan ritel milik perusahaan besar:


1. Kepemilikan


Koperasi dimiliki bersama oleh anggota yang berasal dari masyarakat desa. Sementara ritel konglomerat dimiliki oleh perusahaan atau pemegang saham tertentu.


2. Pembagian Keuntungan


Keuntungan koperasi dibagikan kepada anggota dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU). Sebaliknya, keuntungan ritel modern umumnya menjadi hak pemilik perusahaan atau investor.


3. Tujuan Usaha


Koperasi bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat sekitar. Ritel modern berorientasi pada profit dan ekspansi bisnis.


4. Peran Ekonomi Lokal


Kopdes diharapkan menjadi wadah pemasaran produk UMKM, hasil pertanian, hingga kebutuhan masyarakat desa. Dengan demikian, perputaran uang tetap berada di lingkungan lokal.


Tantangan yang Harus Dihadapi


Meski memiliki konsep berbeda, Kopdes Merah Putih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari kualitas manajemen, kemampuan bersaing dalam harga, sistem distribusi, hingga pengawasan tata kelola.


Tanpa pengelolaan yang profesional, koperasi berisiko kalah bersaing dengan jaringan ritel besar yang memiliki modal, teknologi, dan rantai pasok yang lebih kuat.


Pemerintah Didorong Perjelas Arah Program


DPR meminta pemerintah memastikan bahwa Kopdes Merah Putih tidak hanya menjadi proyek simbolis. Program ini perlu memiliki strategi yang jelas agar benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan memperkuat ekonomi kerakyatan.


Jika dijalankan sesuai prinsip koperasi, Kopdes Merah Putih dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi desa. Namun jika hanya meniru model ritel modern tanpa keunggulan khusus, keberadaannya dikhawatirkan sulit memberikan dampak yang signifikan.