Bataranews– Ketergantungan Indonesia terhadap batu bara kembali menjadi sorotan setelah PLN dilaporkan mengalami kekurangan pasokan yang disebut berkontribusi terhadap pemadaman listrik di sejumlah wilayah Jawa-Bali.
Padahal, produksi batu bara nasional sepanjang 2025 tercatat sangat melimpah dan mencapai ratusan juta ton. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai tata kelola pasokan energi nasional.
Sektor Kelistrikan Serap Batu Bara Terbesar
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, realisasi Domestic Market Obligation (DMO) pada 2025 mencapai 246,88 juta ton.
Dari jumlah tersebut, sekitar 141,4 juta ton atau 57 persen dialokasikan untuk sektor kelistrikan, termasuk pembangkit milik PLN, Independent Power Producer (IPP), dan pembangkit captive milik industri.
Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan dominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam sistem kelistrikan Indonesia yang masih sangat bergantung pada batu bara.
Konsumsi Batu Bara PLN Terus Meningkat
Data PLN Statistics Unaudited 2025 mencatat konsumsi batu bara PLN mencapai 78,41 juta ton sepanjang tahun.
Angka tersebut meningkat sekitar 17,6 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya. Peningkatan kebutuhan listrik nasional membuat penggunaan batu bara tetap menjadi tulang punggung pembangkit listrik di berbagai wilayah Indonesia.
Produksi Nasional Melimpah, Pasokan PLN Tetap Seret
Di sisi lain, produksi batu bara nasional pada 2025 mencapai 817,48 juta ton.
Sebanyak 523,35 juta ton atau hampir 64 persen diekspor ke luar negeri, sementara 246,88 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan domestik melalui skema DMO. Sisanya tersimpan sebagai stok nasional.
Meski produksi berlimpah, PLN masih menghadapi kendala pasokan. Hingga pertengahan Juni 2026, kebutuhan batu bara PLN diperkirakan mencapai 154 juta ton, namun kontrak pasokan yang telah tersedia baru sekitar 134 juta ton. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 20 juta ton.
Batu Bara Kalori Menengah Jadi Masalah
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada jumlah batu bara nasional, melainkan jenis batu bara yang dibutuhkan pembangkit listrik.
PLN membutuhkan batu bara kalori menengah yang ketersediaannya semakin terbatas. Selain itu, harga jual batu bara untuk pasar domestik melalui skema DMO dipatok sebesar US$70 per ton, jauh di bawah harga pasar internasional.
Sementara itu, Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Juni 2026 mencapai US$121,83 per ton. Perbedaan harga tersebut membuat sebagian produsen lebih tertarik menjual batu bara ke pasar ekspor dibandingkan memenuhi kebutuhan domestik.
Energi Terbarukan Kembali Jadi Sorotan
Situasi ini memunculkan kembali perdebatan mengenai ketergantungan Indonesia terhadap batu bara sebagai sumber energi utama.
Sejumlah pihak menilai percepatan pengembangan energi terbarukan, terutama tenaga surya, dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko gangguan pasokan bahan bakar pembangkit.
Berbeda dengan batu bara yang bergantung pada proses penambangan dan distribusi, energi surya tersedia melimpah di Indonesia dan tidak dipengaruhi fluktuasi pasar komoditas global.
Kesimpulan
Kasus kekurangan pasokan batu bara yang dialami PLN menunjukkan bahwa tantangan sektor energi nasional bukan hanya soal jumlah produksi, tetapi juga terkait kualitas batu bara, tata kelola distribusi, dan kebijakan harga. Di tengah tingginya ketergantungan pada PLTU, pengembangan energi terbarukan kembali menjadi opsi strategis untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan.
