-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ganjar Pranowo Beri 7 Masukan untuk Pemerintah

Juni 05, 2026 Last Updated 2026-06-05T09:19:10Z



Bataranews– Pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat memicu berbagai respons dari kalangan politik dan ekonomi. Salah satu tanggapan datang dari Ganjar Pranowo yang menyampaikan tujuh masukan kepada pemerintah terkait upaya memperkuat ekonomi nasional.


Melalui akun media sosial pribadinya, Ganjar menilai penguatan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter. Menurutnya, faktor tata kelola pemerintahan dan kepercayaan publik juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.


Tujuh Masukan Ganjar untuk Pemerintah


Ganjar menyampaikan tujuh poin yang menurutnya perlu menjadi perhatian pemerintah di tengah tekanan terhadap rupiah.


Poin pertama adalah mengembalikan personel lembaga negara pada fungsi utamanya. Kedua, memperkuat sistem meritokrasi birokrasi berbasis kompetensi.


Ketiga, melakukan penghematan anggaran secara nyata mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Keempat, mempercepat pertumbuhan ekspor melalui berbagai insentif yang tepat sasaran.


Selanjutnya, Ganjar mendorong penegakan aturan yang tegas dan berlaku sama bagi semua pihak. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebebasan pers serta memastikan masyarakat terbebas dari rasa takut dalam menjalankan aktivitasnya.


Menurut Ganjar, rasa aman dan kepastian hukum dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat maupun pelaku usaha terhadap negara.


Rupiah Kembali Menembus Rp18.000


Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp18.015 hingga Rp18.041 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah yang pernah dicapai mata uang Indonesia.


Tekanan terhadap rupiah disebut berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Ketegangan geopolitik internasional, penguatan dolar AS, serta arus keluar modal dari negara berkembang menjadi beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.


Pemerintah sebelumnya menyatakan bahwa tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami sejumlah negara lain akibat ketidakpastian ekonomi global.


Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi


Pemerintah bersama otoritas keuangan terus melakukan koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Berbagai langkah intervensi juga dilakukan oleh Bank Indonesia guna meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.


Selain itu, pemerintah menegaskan kesiapan menghadapi berbagai skenario ekonomi yang telah diperhitungkan dalam penyusunan APBN 2026.


Beban Utang Valas Berpotensi Meningkat


Pelemahan rupiah turut berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang pemerintah yang berdenominasi valuta asing.


Meski pembayaran utang dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) rupiah tidak terdampak langsung, kewajiban dalam mata uang asing membutuhkan dana lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.


Namun pemerintah memastikan kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi dan perhitungan yang telah dipersiapkan sebelumnya.


Investor Menanti Kebijakan Berikutnya


Sejumlah pengamat menilai bahwa langkah moneter perlu diimbangi dengan penguatan fundamental ekonomi dan peningkatan kepercayaan pasar.


Dalam kondisi saat ini, perhatian investor akan tertuju pada kebijakan lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi serta mengembalikan kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.


Kesimpulan


Melemahnya rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS menjadi tantangan besar bagi perekonomian Indonesia. Di tengah situasi tersebut, Ganjar Pranowo mengusulkan tujuh langkah yang menitikberatkan pada reformasi birokrasi, kepastian hukum, efisiensi anggaran, serta penguatan kepercayaan publik. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat mendukung stabilitas ekonomi dan memperkuat daya tahan rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.