-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bukan Cuma Bencana, Ada Sisi Lain untuk Tanah dan Laut

September 12, 2026 Last Updated 2026-09-12T08:33:47Z

Abu vulkanik dari erupsi gunung api umumnya identik dengan gangguan bagi masyarakat. Mulai dari penerbangan terganggu, kualitas udara menurun, hingga aktivitas warga di wilayah terdampak ikut terhambat.


Namun, material vulkanik juga memiliki sisi lain. Dalam proses alam yang berlangsung lebih panjang, kandungan mineral pada abu dapat berkontribusi terhadap pembentukan tanah dan, dalam kondisi tertentu, memberikan tambahan unsur yang dimanfaatkan organisme di ekosistem laut.


Hal ini kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Badan Geologi mencatat status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Setelah episode erupsi menerus sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026, aktivitas erupsi masih tercatat dalam pemantauan.


Sebaran abu dari aktivitas tersebut sebelumnya juga berdampak terhadap sejumlah wilayah. BMKG mencatat sebaran abu vulkanik mencapai Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga wilayah lain, sekaligus memengaruhi aktivitas penerbangan.


Abu Vulkanik Membawa Mineral


Praktisi bisnis lingkungan Bang Sap melalui unggahan di media sosial menjelaskan bahwa abu vulkanik tidak semata-mata berupa material pengganggu. Di dalamnya terdapat berbagai mineral yang secara alami dapat masuk kembali ke dalam siklus lingkungan.


Material vulkanik dapat mengandung unsur seperti silika, besi, magnesium, kalium, dan sulfur. Ketika mengalami pelapukan, mineral tersebut secara bertahap dapat dilepaskan ke lingkungan.


Proses inilah yang membuat material vulkanik memiliki potensi berkontribusi terhadap kesuburan tanah dalam jangka panjang.


Namun, perlu digarisbawahi bahwa manfaat tersebut tidak berarti abu vulkanik yang baru jatuh langsung berfungsi sebagai pupuk.


Kondisi abu, karakter tanah, komposisi material, jumlah endapan, serta proses pelapukan sangat menentukan dampaknya terhadap lingkungan. Penelitian mengenai tanah vulkanik di Indonesia juga menunjukkan adanya karakteristik mineral dan sifat tanah yang berkaitan dengan material vulkanik setelah mengalami proses pembentukan tanah.


Tidak Langsung Subur Setelah Terkena Abu


Abu vulkanik yang baru mengendap justru dapat menimbulkan berbagai persoalan. Material tersebut dapat mengganggu kualitas udara, tanaman, sumber air, serta aktivitas masyarakat.


Karena itu, manfaat ekologis abu vulkanik sebaiknya dipahami sebagai proses yang berlangsung secara bertahap.


Ketika material vulkanik mengalami pelapukan dan bercampur dengan lingkungan, sejumlah mineral di dalamnya dapat menjadi bagian dari proses pembentukan tanah. Dalam jangka panjang, proses tersebut dapat membantu menciptakan karakteristik tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman.


Dengan kata lain, dampak abu vulkanik memiliki dimensi waktu. Gangguan yang dirasakan masyarakat dapat terjadi segera setelah erupsi, sementara potensi manfaat ekologisnya membutuhkan proses alami yang jauh lebih panjang.


Bisa Berpengaruh pada Ekosistem Laut


Abu vulkanik yang terbawa angin hingga ke laut juga dapat berinteraksi dengan ekosistem perairan.


Salah satu unsur yang mendapat perhatian dalam penelitian mengenai abu vulkanik adalah besi. Di wilayah laut tertentu yang kekurangan besi, tambahan unsur tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan fitoplankton.


Contohnya terlihat pada erupsi Gunung Kasatochi di Alaska pada 2008. Penelitian yang didukung pengamatan satelit NASA menemukan peningkatan konsentrasi klorofil setelah abu vulkanik menyebar ke kawasan Pasifik Utara. Kondisi tersebut dikaitkan dengan berkembangnya fitoplankton.


Penelitian lain mengenai peristiwa Kasatochi juga menunjukkan bahwa abu vulkanik dapat melepaskan sejumlah unsur ketika bersentuhan dengan air laut, termasuk besi, fosfat, nitrat, dan silika. Namun, penelitian tersebut menunjukkan besi menjadi unsur penting dalam kaitannya dengan pertumbuhan fitoplankton di wilayah yang mengalami keterbatasan besi.


Fitoplankton sendiri memiliki posisi penting dalam rantai makanan laut. Organisme mikroskopis ini menjadi sumber makanan bagi berbagai organisme lain dan berperan dalam produktivitas ekosistem perairan.


Meski begitu, fenomena tersebut tidak berarti setiap erupsi pasti membuat laut menjadi lebih subur. Dampaknya sangat bergantung pada komposisi abu, jumlah material yang masuk ke laut, kondisi perairan, serta ketersediaan unsur lain yang dibutuhkan organisme.


Manfaat Tidak Menghapus Dampak Bencana


Potensi manfaat ekologis abu vulkanik tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan risiko erupsi.


Dalam kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini, pemerintah masih meminta masyarakat mematuhi zona bahaya. Badan Geologi menetapkan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api serta mengingatkan potensi hujan abu lebat, lontaran batu pijar, dan bahaya lain yang berkaitan dengan erupsi.


Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mengimbau nelayan serta masyarakat pesisir di sekitar Selat Sunda meningkatkan kewaspadaan dan tidak mengambil risiko mendekati kawasan berbahaya.


Artinya, manfaat ekologis merupakan bagian dari proses alam jangka panjang, sedangkan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas ketika erupsi berlangsung.


Abu vulkanik pada akhirnya memang memiliki dua sisi. Dalam jangka pendek, material tersebut dapat mengganggu kesehatan, transportasi, perekonomian, dan aktivitas masyarakat. Namun, setelah mengalami proses alami dalam waktu yang lebih panjang, kandungan mineralnya dapat berperan dalam pembentukan tanah dan pada kondisi tertentu turut memengaruhi produktivitas ekosistem laut.


Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak erupsi gunung api tidak selalu sederhana. Ada kerugian yang muncul segera, tetapi ada pula perubahan ekologis yang baru terlihat setelah proses alam berlangsung dalam waktu yang panjang.(Rhz2797)